Tampilkan postingan dengan label sejarah unik indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah unik indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2012

Dua Bangunan Candi di Pati Diekskavasi


Sumber gambar: Balai Arkeologi Yogyakarta

Tim Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah berhasil mengekskavasi dua bangunan candi di Desa Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Hasil ekskavasi menunjukkan bahwa dua candi tersebut berada di satu kompleks percandian. Satu candi merupakan candi induk, sementara candi lain merupakan candi perwara.

"Arsitektur candi sudah berhasil diketahui. Candi induknya berbentuk bujur cangkar dengan ukuran 5,9 x 5,9 meter. Sementara candi perwara berukuran 2,7 x 4,6 meter," ungkap Rita Istari, ketua tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta.

Tim juga berhasil mengetahui arah candi. Untuk candi induk menghadap ke arah barat, sementara candi perwara menghadap ke timur, ke arah candi induk.

Rita yang dihubungi Kompas.com, Rabu (18/7/2012), menuturkan, bagian candi yang masih utuh adalah dasar atau batur candi. Menurut hasil pengukuran, bagian batur candi memiliki tinggi 77 cm. Bagian atap dan tubuh candi sudah runtuh.

"Candi ini diperkirakan berasal dari abad 8-10 Masehi, sezaman dengan Borobudur," ungkap Rita.

Rita mengatakan, untuk memastikan usia candi tersebut, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan prasastinya. Prasasti yang ditemukan bisa mengonfirmasi tahun pembangunan candi secara pasti.

Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta, Siswanto, menuturkan bahwa candi yang ditemukan ialah candi Hindu. Konfirmasi usia candi bisa menggambarkan kondisi saat candi dibangun.

"Kalau candi ini lebih tua dari Prambanan dan Borobudur, berarti dibangun saat upaya penyebaran Hindu ke Indonesia. Kalau lebih muda, berarti dibangun oleh kerajaan di Indonesia," ungkap Siswanto.

Rita mengatakan bahwa candi yang ditemukan langka karena terbuat dari batu bata. Sementara Siswanto menuturkan bahwa penemuan candi ini semakin menambah referensi tentang penyebaran Hindu di wilayah pantai utara Jawa.

Sumber: kompas.com

Rabu, 05 September 2012

Temuan Candi di Pati Langka


Sumber gambar: Balai Arkeologi Yogyakarta

Tim Balai Arkeologi Yogyakarta berhasil mengekskavasi candi di Desa Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dua candi yang diekskavasi ialah satu kompleks percandian, satu merupakan candi induk, sementara yang lain adalah candi perwara.

Pihak Balai Arkeologi Yogyakarta menyatakan bahwa temuan candi Hindu ini langka dilihat dari sisi material bangunan dan lokasi penemuannya.

"Candi ini diperkirakan berasal dari abad ke 8 sampai 10. Material bangunannya terbuat dari batu bata merah," ungkap Rita Istari, ketua tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta saat dihubungiKompas.com, Rabu (18/7/2012).

Rita menjelaskan, bangunan candi dengan material bata merah relatif langka di Jawa Tengah, apalagi pada abad 8-10.

Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta, Siswanto, mengatakan bahwa selama ini terdapat dikotomi bahwa candi-candi di Jawa Timur banyak yang terbuat dari bata merah dan di Jawa Tengah terbuat dari batu.

"Dengan adanya penemuan ini, maka terbukti bahwa dikotomi itu tidak selalu benar," jelas Siswanto.

Material bangunan dari batu bata juga menunjukkan bahwa candi-candi kuno tak selalu dibangun dengan batu. Masyarakat atau kerajaan bisa saja membangun candi dengan material yang melimpah di sekitarnya.

"Kalau di wilayah dekat Pati, banyak material batu bata merah, jadi itu yang dipakai. Kalau mendatangkan batuan dari pegunungan untuk membuat candi, itu tidak mungkin sebab akan jadi pekerjaan berat," papar Rita.

Dari sisi lokasi, candi di Pati juga termasuk langka. Selama ini, mayoritas candi Hindu terdapat di wilayah yang tinggi karena Hinduisme menghormati gunung. Penemuan candi di dataran rendah relatif sedikit, diantaranya hanya di Tegal.

"Penemuan ini bisa menambah referensi tentang penyebaran Hindu di Indonesia," papar Siswanto.

Usia candi harus dipastikan. Jika candi lebih tua dari Borobudur dan Prambanan, maka candi dibangun saat masa penyebaran, tapi jika lebih muda maka dibangun oleh kerajaan Hindu yang berjaya di Indonesia.

Candi di Desa Kayen sebenarnya telah ditemukan oleh warga pada Mei 2011 lalu. Penemuan candi berawal dari keinginan warga untuk membangun mushola di lokasi candi.

Temuan kemudian dilaporkan ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah kemudian ditindaklanjuti oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. September tahun lalu, langkah ekskavasi telah dilakukan. Langkah yang sama lalu ditindaklanjuti baru-baru ini.

Hasil ekskavasi terbaru berhasil mengungkap arsitektur candi. Bagian candi induk berbentuk bujur sangkar dengan ukura 5,9 x 5,9 meter dan menghadap ke barat. Candi perwara berukuran 2,7 x 4,6 meter dan menghadap ke timur.

"Saat ini kami juga menemukan bagian yang diduga merupakan pintu masuk candi," kata Rita yang juga menjelaskan bahwa bangunan candi yang utuh hanya bagian dasar atau baturnya.

Sumber: kompas.com


Selasa, 04 September 2012

Jejak Kehidupan Purba di Cekungan Soa


sumber gambar: kompas.com


Sembilan matahari seolah bersinar di atas kepala. Teriknya memanggang Cekungan Soa. Meski musim kering belum mencapai puncak pada Maret, savana telah menguning. Pepohonan hanya merimbun di kanan-kiri Sungai Ae Sisa yang mengalir deras di dasar lembah.

Dari kejauhan, Gunung Ambulombo tinggi menjulang. Dalam naungan langit biru tanpa awan, 150 warga Kecamatan Soa mandi keringat mengorek lapisan tanah bagian atas di lereng-lereng dan dasar lembah dengan cangkul dan sekop. Para arkeolog dan paleontolog memimpin penggalian dengan kuas dan pahat mini. Mereka berpencar di beberapa situs penggalian yang tersebar di Cekungan Soa.

”Tuk, tuk, tuk, tuk…!” Bunyi ketukan palu pada pahat besi meramaikan lembah di kaki tebing curam yang mirip tembok raksasa. Warga setempat menyebut tebing itu sebagai Tangi Talo, artinya tangga yang mustahil didaki.

Setelah berhari-hari terbakar terik matahari, siang itu, dari lubang galian sekitar 1 meter, tulang-belulang menyembul dari kedalaman Bumi. Warna putihnya sudah memudar menjadi coklat kekuningan dan sebagian retak di sana-sini. Tapi, bentuknya masih dikenali.

Gading Stegodon sondaari berukuran sekitar 1,6 sentimeter ditemukan di bagian tengah galian. Di bagian atas terdapat tulang rahang. Sementara tengkorak, tulang belakang, dan rusuknya terserak di bagian bawah.

Tulang-belulang gajah purba itu tercampur dengan tulang pemangsanya, komodo dan buaya. Semua tulang sudah lepas dari sambungan, tidak utuh, mengabarkan pernah terjadinya banjir lumpur pada masa lalu, yang menggulung dan menghanyutkan binatang-binatang ini dari lereng tebing Tangi Talo ke dasar lembah.

Total ada 10 binatang di lubang galian ini, yaitu gajah, komodo, buaya, dan kura-kura. ”Lokasi ini merupakan habitat kehidupan purba yang cukup subur dan ramai,” kata Gerrit Dirk van den Bergh, peneliti paleontologi dari School of Earth and Environmental Sciences, University of Wollongong, Australia. Lelaki ini meneliti fosil binatang di Soa sejak tahun 1993.

”Pada tahun-tahun sebelumnya, kami juga menemukan banyak fosil binatang purba, termasuk tempurung kura-kura raksasa,” kata Erick Setiyabudi, paleontolog dari Pusat Survei Geologi Bandung (PSG). ”Dari ukuran cangkangnya, kura-kura raksasa yang ditemukan di Soa tak kalah dengan yang sekarang masih hidup di Kepulauan Galapagos.”

Kekayaan temuan fosil ini menguatkan cerita ramainya kehidupan di Cekungan Soa saat itu. Kehidupan yang kemudian terenggut tiba-tiba.

"Semua fosil yang ditemukan terlapisi material gunung api,” kata Ruly Setiawan, geolog dari PSG. Kandidat doktor dari Wollongong University ini memfokuskan penelitiannya untuk melacak gunung api yang menghabisi kehidupan di Cekungan Soa. ”Umur lapisan di Cekungan Soa berada dalam rentang 650.000 tahun hingga 1,02 juta tahun lalu. Dalam rentang itulah, gunung api silih berganti meletus dan menciptakan suksesi kehidupan.”

Secara stratigrafi, Cekungan Soa dibagi menjadi dua formasi penting, yaitu Ola Kile sebagai bantalan di lapisan paling bawah serta formasi Ola Bula dan formasi Gero di atasnya. Umur formasi Ola Kile berdasarkan penarikan umur menggunakan metode jejak belah (fission track) batuan adalah 1,86 juta tahun dan umur formasi Ola Bula 880.000 tahun. Adapun formasi Gero sekitar 650.000 tahun.

Fachroel Aziz memastikan bahwa formasi Ola Kile merupakan produk gunung api berupa batuan breksi yang keras. ”Cekungan Soa tadinya berupa cekungan besar, yang kemudian tertutup batuan breksi dari letusan gunung. Batuan breksi susah ditembus air sehingga terbentuklah danau, barulah timbul kehidupan di sekitar danau,” katanya.

Dengan melihat halusnya ukuran batuan gunung api yang melapisi Cekungan Soa, Ruly menduga, sumber letusan itu cukup jauh. Dia memetakan, sedikitnya tiga gunung api yang diperkirakan menjadi penyebab petaka itu. Pertama, gunung api di sisi utara cekungan, yaitu Kaldera Welas, kedua adalah Gunung Kalelambu di sisi timur cekungan, dan ketiga, Gunung Kero di sebelah tenggara Soa.

”Kami masih menunggu hasil penelitian di laboratorium untuk mengetahui kapan ketiga gunung api itu meletus pada masa lalu. Penanggalan usia batuan menggunakan argon-argon memperlihatkan, lapisan vulkanik yang melapisi Soa ini berumur sekitar satu juta tahun,” kata Ruly. ”Jika kita ketemu gunung api yang meletus hebat satu juta tahun lalu, kita bisa tahu sumber bencana di Soa.”

Setelah kehancuran akibat letusan gunung api itu, menurut Ruly, kehidupan yang punah kemudian tergantikan oleh spesies baru. Rerumputan kembali tumbuh subur di cekungan itu. Sungai-sungai kembali mengalirkan air bersih, mengundang kehidupan untuk kembali datang dan bersemi kembali.

Sekitar 880.000 tahun lalu, Cekungan Soa kembali dihuni. Kali ini bukan oleh gajah kerdil, tetapi oleh serombongan gajah besar (Stegodon florensis), tikus besar, dan komodo. Sekelompok manusia purba juga diduga kembali datang.

Namun, petaka kembali terjadi. Sekali lagi, letusan gunung api mengubur kehidupan yang baru bersemi di Cekungan Soa. Banjir lumpur kembali melapisi dan mengawetkan tulang binatang dan alat-alat batu itu.

Lapisan kehidupan tahap kedua inilah yang ditemukan Iwan Kurniawan, palentolog dari PSG, di lembah sempit yang berada di tengah-tengah Cekungan Soa. Situs yang diberi nama Mata Menge ini berada di ketinggian 325 meter di atas permukaan laut, dikepung perbukitan.

Situs Mata Menge, menurut Iwan, sudah diteliti oleh tim PSG bekerja sama dengan University of New England sejak akhir tahun 1990-an. Penggalian sebelumnya telah menemukan fosil Stegodon florensis, komodo, buaya, dan moluska air tawar. Selain itu juga ditemukan sedikitnya 200 alat batu yang umumnya terdiri atas serpih bilah dan batu inti.

Berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Mata Menge, tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melakukan penggalian di Kobatuwa. Situs ini berupa lembah yang bagian tengahnya dibelah sungai yang mengering saat kemarau. Nama Kobatuwa diartikan penduduk sebagai tali hutan karena wilayah ini dulu merupakan hutan yang ditumbuhi tanaman belukar dengan akar sangat lebat.

”Di Kobatuwa, kami menemukan beragam artefak batu yang melimpah dan fragmen fosil tulang serta gigi hewan vertebrata yang umumnya jenis hewan stegodon,” kata Jatmiko, arkeolog dari Puslit Arkenas. ”Sebagian temuan didapatkan dalam keadaan masih melekat di lapisan tanah aslinya.”

Pada umumnya, temuan artefak di Kobatuwa didominasi jenis alat-alat serpih bilah. Penelitian melalui analisis jejak belah terhadap endapan tufa putih yang melapisi situs mengungkap, situs ini berusia sekitar 700.000 tahun.

Berbagai temuan alat batu ini semakin menguatkan hipotesis Father Theodor Verhoeven bahwa Cekungan Soa pernah dihuni manusia purba. Pada tahun 1968, pastor berkebangsaan Belanda ini menemukan fosil stegodon dan artefak alat batu di Cekungan Soa. Verhoeven yang pernah belajar arkeologi itu menggali lapisan tanah di beberapa lokasi di Cekungan Soa, yaitu Mata Menge, Boa Lesa, dan Ola Bula.

Verhoeven melaporkan temuannya berupa alat batu dan tulang stegodon di balik lapisan abu gunung api. Karena stegodon hidup di Indonesia sekitar 750.000 tahun lalu, dia mengklaim bahwa alat batu itu juga berasal dari tahun yang sama. Namun, temuan itu tak banyak mendapatkan respons karena tiadanya kepastian umur batuan.

Setelah lama terabaikan, tahun 1991-1992, tim gabungan dari The Netherlands National Museum of Natural History bersama dengan PSG yang waktu itu masih bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G) melakukan penggalian di Mata Menge. Tim ini juga melakukan pengujian paleomagnetik untuk mengetahui umur lapisan batuan yang mengubur fosil dan artefak batuan.

Pada tahun 1994, P3G melanjutkan penggalian di Cekungan Soa bekerja sama dengan The University of New England, Australia. Penelitian itu berlangsung hingga saat ini dan telah menemukan 12 situs artefak dan fosil. Tersebar di bagian tengah cekungan, di bagian barat dengan situs Mata Menge, Kobatuwa, Boa Lesa, dan Lembah Menge. Di bagian utara terdapat kelompok Tangi Talo dan Ola Bula. Di bagian timur-tenggara terdapat kelompok Dhozo Dalu, Sagala, Ngamapa, dan Kopowatu.

Dari semua situs yang digali, ditemukan aneka jenis binatang purba dan alat batu. Namun, penggalian di Cekungan Soa belum menemukan tulang-belulang manusia purba. ”Berdasarkan bentuk alat-alat batu yang ditemukan, kami menduga manusia purba di sini adalah nenek moyang Homo florensiensis di Liang Bua,” kata Mike. ”Tetapi, semua teori ini masih spekulatif, sampai kami bisa menemukan fosil manusia purba di sini,” kata Mike, arkeolog tua ini sambil menghela napas.

Adam Brumm, research fellow pada University of Wollongong, Australia, mengungkapkan, temuan manusia purba di Flores juga bakal mengubah peta migrasi sejarah manusia. ”Kita akan punya bukti bahwa ada migrasi manusia dari timur. Ini menarik dan pasti akan mengejutkan dunia,” katanya.

Senja temaram di Cekungan Soa. Suasana sepi. Warga lokal yang bekerja sebagai penggali sudah pulang ke rumah. Mike baru saja beranjak dari lubang galian di Mata Menge menuju base camp di Desa Mengeruda ketika dia berkata dengan lirih, ”Satu gigi pun cukup. Satu tubuh, tentu akan lebih baik.”


Sumber :
Kompas Cetak, kompas.com



Jumat, 31 Agustus 2012

Arkeolog Temukan Saluran Air Kuno di Kediri


Selama sepekan ini beberapa arkeolog dari balai pelestarian peninggalan purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, melakukan ekskavasi situs di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kediri, Jawa Timur.

Penggalian yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari 13 orang itu menemukan struktur bangunan yang mirip saluran air peninggalan zaman kerajaan.

Struktur yang terbangun dari susunan batu bata merah tersebut mempunyai tinggi 150 cm dan terkubur dalam tanah sedalam 3 hingga 4 meter.

Petugas melakukan penggalian sporadis hingga sebanyak 9 titik dengan radius 1 kilometer untuk mendapatkan alur saluran air tersebut.

"Fungsi utamanya belum jelas karena kita belum dapat gambaran detailnya. Namun, kita asumsikan struktur ini merupakan saluran air karena mempunyai kemiripan dengan saluran air yang ditemukan di Magetan, Ponorogo, maupun Pasuruan," kata Danang Wahyu Utomo, salah seorang arkeolog, saat ditemui di lokasi penggalian situs, Minggu (9/9/2012).

Saluran air tersebut terhubung dari sumber mata air di desa tersebut, yang terdapat pohon beringin besar. Namun sayang, para arkeolog masih belum terpuaskan karena belum menemukan muara salurannya.

Penelusuran hingga 1 kilometer itu hanya menemukan struktur saluran air. "Asumsi saya pasti ada kolamnya. Tapi di mana, ini yang masih terus kita cari," imbuh Danang.

Selain itu juga belum diketahui pasti dari zaman kerajaan apakah saluran itu dibangun. Selama penggalian, petugas tidak menemukan adanya penemuan benda yang spesifik dan simbolis yang dapat menguatkan ciri-ciri sebuah benda dibuat pada masa tertentu, seperti gerabah ataupun keramik.

Petugas hanya menemukan struktur batu atau pendapa, dan korelasinya dengan saluran air itu juga belum diungkap. Penelitian terhadap batu bata sebagai material yang digunakan dalam struktur bangunan juga memerlukan proses uji laboratorium sehingga memakan waktu cukup panjang.

Batu bata tersebut terdiri dari dua ukuran. Ukuran pertama dengan panjang 42 cm, tinggi 8 cm, dan lebar 20 cm. Ukuran kedua dengan panjang 38 cm, tinggi 7 cm, dan lebar 20 cm.

Penggalian perdana yang dilakukan di areal pekarangan warga dan aliran sungai tersebut difokuskan pada pembersihan dan pemetaan situs.

Ke depannya, ekskavasi lanjutan akan dilakukan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang bentuk maupun fungsi bangunan tersebut.

Sumber: kompas.com


Minggu, 26 Agustus 2012

Peninggalan Purbakala Dalam Laut Dicuri


Sebagian benda kuno muatan kapal Inggris yang diperkirakan dari masa akhir tahun 1800-an yang berada pada kedalaman 17 meter di perairan Natuna, Kepulauan Riau, dicuri. Kini, sebagian barang curian, di antaranya berupa benda-benda dari keramik, itu disita di Kepolisian Resor Natuna.
Menurut Koordinator Kelompok Kerja Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar—yang membawahkan Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau—Teguh Hidayat, Kamis (30/8), barang-barang curian itu hendak diselundupkan lewat jasa kargo. ”Digagalkan saat Lebaran lalu,” kata dia.
Penggagalan itu dilakukan setelah peneliti Arkeologi Maritim dan Kepala Subseksi Pelayanan Teknis Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan Nia Naelul Hasanah berkoordinasi dengan polisi. Dugaan sementara, barang-barang bersejarah itu dicuri dengan jasa para penyelam asal Vietnam.
Menurut Teguh, terhadap barang-barang muatan lain yang masih ada di dasar samudra perlu segera diekskavasi atau setidaknya diamankan. ”Kalau tidak segera dilakukan, barang-barang yang masih tersisa bisa dicuri lagi dan kemungkinan habis,” kata Teguh.
Secara khusus, Nia yang pernah menyelam di lokasi Natuna mengusulkan agar ada ekskavasi pada tahun 2013 mendatang. Namun, sebelum itu terwujud, sudah terjadi pencurian.
Teguh mengatakan, saat ini tim BP3 Batusangkar menunggu kajian tim pemerintah pusat dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman yang berada di lokasi. Nantinya, berdasarkan laporan tim tersebut, akan dilakukan pemilahan barang-barang temuan itu.
Sumber :
Kompas Cetak


Minggu, 19 Agustus 2012

Lapisan Kehidupan di Liang Bua

Liang Bua, goa besar di Kecamatan Ruteng, Manggarai, Flores, ibarat buku yang mengisahkan tentang pelapisan kebudayaan di masa lalu yang dihancurkan oleh letusan gunung api. Lantai goa ini terdiri dari lapisan tufa atau endapan material vulkanik lembut yang terkonsolidasi. Tufa tersebut berasal dari hasil letusan gunung api, entah dari mana asalnya. Hingga kini, belum ada penelitian yang fokus mengungkap asal tufa tersebut.

Thomas Sutikna dari Puslit Arkenas yakin bahwa Liang Bua bekali-kali tertimbun letusan gunung api. Lapisan paling tebal kebetulan menjadi pembatas antara temuan dunia modern dan dunia purba. Dunia modern di Liang Bua dibatasi usia hingga 10.000 tahun lalu. Sementara dunia purba yang mengindikasikan kehadiran manusia berusia paling tua hingga 95.000 tahun lalu.

Dengan adanya lapisan tufa tebal ini, Thomas menduga manusia purba tak mungkin bertemu dalam satu masa dengan manusia modern. Tebal lapisan tufa 1-2 meter. Di atas tufa itu masih ada lapisan atas yang tebalnya hingga ke permukaan tanah 4-6 meter.

Di lapisan atas, usianya paling tua dibatasi hingga 10.000 tahun. Di lapisan atas ini, ketika digali pertama kali, ditemukan pecahan tembikar dan kapak corong yang terbuat dari perunggu. Lapisan teratas ini diduga berumur 450 tahun yang sudah masuk masa sejarah, tetapi budayanya masih dianggap prasejarah.

Di bawah tembikar yang berusia sekitar 4.000 tahun ditemukan kerangka manusia lengkap dengan bekal kuburnya berupa beliung, periuk, kendi, dan taring babi. Di lapisan ini, tahun 1965, ditemukan enam kerangka manusia oleh Verhoeven. Setelah itu, tahun 1978 juga ditemukan enam kerangka oleh tim Arkenas. Menurut Jatmiko dari Arkenas, dalam penggalian tahun 1998 kembali ditemukan dua kerangka manusia dengan alat kuburnya.

Di bawah kerangka, masih di lapisan atas dalam rentang maksimal 10.000 tahun, kemudian ditemukan banyak tulang babi, rusa, kerbau atau sapi, dan monyet. ”Mereka termasuk fauna modern,” kata Thomas.

Dalam stratigrafi situs Liang Bua yang dibuat tim Arkenas, jelas terlihat bahwa tufa tersebut seperti menutup sebuah zaman yang dihuni oleh manusia purba. Tepat di bawah tufa tebal tersebut, tepatnya enam meter dari permukaan tanah, pada tahun 2003, tim peneliti berhasil menemukan rangka Homo floresiensis.

Homo floresiensis ini diperkirakan tinggal dalam rentang usia 18.000 tahun hingga maksimal 95.000 tahun silam. Di bawah kerangka Homo floresiensis ini kemudian ditemukan banyak tulang gajah purba kerdil yang terkonsentrasi bersama artefak batu. ”Diduga, alat batu tersebut digunakan manusia purba untuk menguliti stegodon,” kata Jatmiko. ”Stegodon yang ditemukan didominasi yang masih kecil atau remaja.”

Dari segi peralatan, kata Jatmiko, manusia purba telah memanfaatkan sumber daya lokal berupa batu untuk berburu dan meramu makanan. Mereka memilih bahan batu itu bukan sembarangan. Mereka sangat cerdik dan hanya memilih batuan yang berkualitas tinggi. ”Contohnya mereka hanya pilih batuan chert dan kalsedon, bukan batuan andesit yang gampang rapuh,” katanya.

Chert jika dipangkas akan memiliki sisi tajam yang seperti silet. Ini fungsinya untuk menguliti binatang seperti stegodon. ”Batuan tajam ini bisa berfungsi sebagai pisau untuk meraut kayu dan bambu,” tutur Jatmiko.

Di lapisan yang usianya diperkirakan 18.000 hingga 38.000 tahun, ditemukan fosil komodo dan kura-kura raksasa.

Sumber: kompas.com


Rabu, 15 Agustus 2012

Meski Bukan Piramida, Situs Gunung Padang Punya Potensi Wisata


Menurut sejumlah arkeolog, geolog, dan astronom, Situs Gunung Padang kemungkinan besar bukan piramida. Meski demikian, situs ini tetap punya potensi untuk dikembangkan menjadi daerah wisata.

Demikian terungkap dalam "Rembug Arkeologi Situs Gunung Padang" yang diadakan pada Kamis (29/3/2012) di Pusat Arkeologi Nasional, Pejaten, Jakarta Selatan.

Dalam acara itu, Sutikno Bronto, geolog Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan bahwa Gunung Padang bukan piramida, melainkan gunung api purba.

"Gunung Padang adalah sumbat lava di dalam kawah gunung api purba," kata Sutikno. Sumbat lava adalah bagian atas leher gunung api yang menyembul ke permukaan.

Sutikno menjelaskan, sumbat lava itu hancur berserakan karena proses tektonik dan longsor. Masyarakat setempat pada masa lalu kemudian memanfaatkannya untuk membangun punden berundak untuk pemujaan.

Seiring waktu, punden berundak tersebut ditinggalkan, diduga karena gempa atau tanah longsor. Saat ini dijumpai sisa-sisa dari struktur punden berundak tersebut.

Pendapat Sutikno bertentangan dengan hasil penelitian Tim Katastrofik Purba yang mengatakan bahwa struktrur yang didapatkan di Gunung Padang adalah buatan manusia.

Tim Katastrofik Purba, sebelumnya lewat pengeboran sedalam 20 meter, menemukan tiga rongga di badan gunung. Tim juga menemukan lapisan pasir.

Selain itu, tim pun mengklaim bahwa situs megalitikum Gunung Padang bukan situs biasa. Situs tersebut lebih tua dari Piramida Giza atau dibangun sekitar tahun 4700 SM.

Pengembangan potensi wisata

Meski berpendapat bahwa Gunung Padang bukan piramida, Sutikno juga menganggap bahwa pengembangan situs gunung tersebut, sebagai destinasi wisata, sangat potensial.

"Informasi tentang adanya bangunan piramida cukup sebagai cerita fiksi untuk menambah daya tarik wisata alam di Gunung Padang," ungkap Sutikno.

Selain soal piramida, Gunung Padang juga memiliki mitos "Batu Gendong". Diceritakan bahwa siapa pun yang bisa mengangkat batu tersebut bakal menuai kesuksesan dalam hidupnya.

Potensi wisata lain adalah wisata tambang. Menurut Sutikno, kawasan Gunung Padang memiliki logam dan bahan galian, yang oleh karenanya masyarakat bisa diajak untuk menikmati proses penambangan.

Terkait dengan potensi wisata, Imam Haris, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur, mengatakan bahwa rencana utama pengembangan wisata kini tengah dibuat.

"Untuk itu kita perlu pembebasan tanah. Ada yang sudah dilakukan. Ke depan, kita akan bebaskan lagi 20 hektar. Total yang akan dibebaskan adalah 50 hektar," katanya.

Wisata yang dikembangkan, selain geologi, adalah kebun teh yang rencananya dilakukan bersama produsen teh Sosro. Ada pula curug yang terletak di dekat Gunung Padang.

Jenis wisata perjalanan dengan kereta api juga akan dikembangkan. Pengunjung bisa menikmati pengalaman naik kereta api uap dari Cianjur.
Potensi wisata besar karena dalam beberapa waktu terakhir, jumlah wisatawan 200-300 orang per minggu.
Menyoroti rencana pengembangan wisata, arkeolog mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian situs megalitikum Gunung Padang. Perencanaan harus matang sehingga situs tak mengalami kerusakan seperti beberapa destinasi wisata lainnya.

Sumber: Kompas.com


Teliti Gunung Padang Secara Menyeluruh

Tim Katastrofik Purba yang dibentuk oleh Staf Khusus Kepresidenan Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam membuat penemuan mengejutkan beberapa waktu lalu. Mereka menduga bahwa Gunung Padang, seperti halnya Gunung Sadahurip, memiliki bangunan piramida. Lewat pengeboran sedalam 20 meter, tim menemukan 3 rongga beserta lapisan material pasir.

Pengeboran yang dilakukan menunjukkan bahwa bangunan sudah ada sejak 4700 SM. Hal ini berarti bahwa bangunan tersebut lebih tua dari Piramida Giza.

Temuan tersebut ditanggapi beragam. Geolog dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM) menilai bahwa Gunung Padang bukan piramida tetapi merupakan gunung api purba.

Menurutnya, Gunung Padang terdiri dari sumbat lava yang kemudian rubuh karena aktivitas tektonik atau longsor. Batuan yang rubuh lalu dimanfaatkan untuk membangun punden berundak. 

Astronom Ma'rufin Sudibyo mengatakan bahwa umumnya bangunan piramida tak cuma dibangun untuk pemujaan, tetapi juga sebagai alat penentu penanggalan dan perkiraan musim sehingga membantu aktivitas masyarakat. 

Di pihak lain, Agung Bimo Sutejo yang tergabung dalam Yayasan Turangga Seta mengungkapkan kemungkinan adanya bangunan piramida di Indonesia besar.

"Aneh kalau dikatakan tidak ada piramida di negara ini. Yang terbuka saja ada. Candi Sukuh dan Candi Cetho itu jelas piramida," kata Agung.

Sebagai buktinya, Agung menyatakan bahwa candi-candi di Indonesia memiliki figur orang Mesir, Aztec dan Sumeria. Jika figurnya ada, maka bangunannya pun seharusnya ada. 

Dalam "Rembug Arkeologi Situs Gunung Padang" yang digelar di Pusat Arkeologi Nasional, Kamis (29/3/2012), arkeolog, geolog dan astronom sepakat bahwa gunung Padang harus diteliti secara menyeluruh. 

"Gunung Padang ini harus ditindalanjuti. Penelitiannya harus disatuatapi, melibatkan berbagai kalangan. Kelmahan pemerintahan kita adalah ego sektoral, di dunia akademik juga sama," jelas Daud Aris Tanudirdjo, arkeolog dari Universitas Gadjah Mada. 

Menurut Daud, badan arkeologi nasional harus mengakomodasi kepentingan para geolog, arkeolog dan bidang lain yang terkait penelitian Gunung Padang.

Daud mengatakan, Untuk menyimpulkan adanya piramida, harus dilakukan lewat penelitian arkeologis. Pengeboran tidak cukup. Haru dibuka, digali."

Risiko dari penelitian tersebut adalah menggali tanpa menemukan apapun. Pengalaman penelitian peradaban Maya di Lembah Mirador, Guatemala, memberikan pelajaran bahwa apa yang tercitrakan lewat analisis geologi belum tentu merupakan fakta. 

"Dengan data yang sama, interpretasinya bisa berbeda-beda," katanya.

Dalam upaya penelitian, Daud menuturkan pentingnya mengedepankan prinsip akademis. Hasil harus akurat tanpa mengumbar hasil yang belum pasti kepada masyarakat. Hal-hal yang belum pasti hendaknya menjadi perdebatan di kalangan akademis.

Sumber: Kompas.com

Wajah Sumeria Ada di Candi Jawa

Agung Bimo Sutejo dari Yayasan Turangga Seta mengungkapkan bahwa candi-candi di Jawa menyimpan patung dan relief wajah bangsa asing, salah satunya orang Sumeria.

Salah satu candi yang memiliki patung manusia Sumeria adalah Candi Cetho. Berdasarkan catatan sejarah, candi ini dibuat pada zaman Majapahit, pemerintahan Raja Brawijaya V. 

Kesimpulan bahwa patung di Candi Cetho merupakan orang Sumeria, menurut Agung, bisa dilihat dari ciri-ciri dan atribut yang dikenakan sosok dalam patung tersebut.

"Orang Sumeria memakai gelang yang mirip jam tangan. Pada patung terlihat. Ini berarti, patung itu bukan orang Jawa," ungkap Agung yang ditemui di Jakarta, Kamis (29/3/2012).

Atribut lain menunjukkan adalah bahwa patung di Candi Cetho hanya menggunakan anting-anting. Padahal, orang Jawa biasanya menggunakan sumping.

Dalam salah satu patung di Candi Cetho, figur patung tampak dalam keadaan takut. Menurut Agung, tampaknya figur tersebut takluk pada orang Jawa.

Agung menguraikan, figur Sumeria bukanlah satu-satunya bangsa yang dijumpai dalam relief candi Jawa. Di Candi Penataran di Jawa Timur, terdapat figur China, Aztec, dan Mesir.

Salah satu relief di Candi Penataran menggambarkan adanya tiga orang yang berpakaian mirip orang Mesir duduk bersebelahan dalam posisi menyembah.

Di relief lain di Candi Penataran, terdapat gambaran leluhur Nusantara yang tengah berjuang menaklukkan bangsa Indian. Lebih kurang ada lima relief yang diungkap oleh Turangga Seta.

Bangsa Indian, menurut Agung, memiliki pasukan gajah purba. Figur gajah tersebut dijumpai dalam relief. Hal ini menandai bahwa leluhur Nusantara menaklukkan Bangsa Maya dari Kerajaan Copan di Honduras.

Berdasarkan beberapa temuan tersebut, Agung dan rekannya di Turangga Seta mempercayai adanya Benua Atlantis yang dideskripsikan oleh Arysio Santos dalam bukunya. Atlantis ada di wilayah Indonesia.

Terkait dengan dugaan adanya piramida di Gunung Sadahurip dan Gunung Padang, Agung menilai hal tersebut sangat mungkin. Indonesia telah memiliki peradaban sejak ribuan tahun lalu. 

Pseudo-arkeologi


Menanggapi pendapat Agung dan Turangga Seta, arkeolog Universitas Gadjah Mada, Daud Aris Tanudirdjo, mengungkapkan bahwa temuan tersebut termasuk pseudo-arkeologi.

"Di Mesir itu juga ditemukan gambar mirip tank dan helikopter. Tapi apakah benar ada tank dan helikopter saat itu? Ada juga figur orang berkerudung, sangat persis astronot. Tapi apa benar?" tanya Daud.

Menurut Daud, keberadaan orang Sumeria, Mesir, atau Afrika di Jawa mungkin saja. Walaupun demikian, hal itu tak bisa serta merta dikaitkan dengan adanya benua Atlantis.

Meski demikian, Daud menyambut baik temuan Turangga Seta dan merasa bahwa kalangan arkeolog wajib memfasilitasi. Kajian secara kritis harus dilakukan

Sumber: Kompas.com


Tulungagung Sudah Punya Replikasi Homo Wajakensis


Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kini sudah memiliki replika tengkorak manusia purba Homo Wajakensis. Tengkorak manusia purba ditemukan Eugene Dubois, dokter berkebangsaan Belanda, di wilayah Desa Gamping, Kecamatan Campur Darat, Kabupaten Tulungagung, tahun 1889.
Replika itu didapat dari Museum Geologi Bandung dan menurut rencana bakal dijadikan bagian dari rencana menghidupkan lokasi Gua Lawa, tempat Dubois bekerja, sebagai tujuan wisata ilmiah.

Koordinator Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (K2SB) Triyono menyatakan sudah melihat replika tengkorak tersebut. Ia yakin akan menjadi daya tarik baru bagi pembelajaran sejarah bagi siswa sekolah menengah hingga perguruan tinggi.

"Replika tengkorak ini belum akan dipamerkan, karena lokasi bakal didirikannya monumen dan museum di depan Gua Lawa dan tugu marmer tempat Dubois bekerja, kini masih berupa tanah kosong. Masih perlu waktu dalam hitungan bulan untuk akhirnya bisa dinikmati," kata Triyono, Rabu (18/4/2012) di Tulungagung.

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pemkab Tulungagung sudah berkomunikasi dengan DPRD setempat dan berharap alokasi anggaran untuk pemanfaatan lokasi situs Homo Wajakensis, sebagai kawasan cagar budaya.

"Konsepnya sama persis dengan konsep museum di lokasi temuan tengkorak manusia purba lainnya hasil ekskavasi Dubois di Trinil (Ngawi) dan Sangiran (Solo) berupa manusia purba Pitecanthropus Erectus," kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tulungagung Hendri Sugiharti.

Dikutip dari: Kompas.com


Dua Kerangka Manusia Prasejarah Ditemukan di Goa Kidang


                 Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan dua kerangka manusia prasejarah di Goa Kidang, Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Satu kerangka Homo sapiens atau manusia prasejarah yang sudah berpikir maju itu ditemukan utuh beserta kerangka kaki.
Goa Kidang berada di kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara dan berjarak sekitar 35 kilometer dari kota Blora. Goa itu berupa ceruk gunung karst sedalam 15 meter dari permukaan tanah bukit karst. Untuk masuk ke dalam goa tersebut harus menuruni jalan setapak.
Ketua Tim Pola Okupasi Goa Kidang Balai Arkeologi Yogyakarta Indah Asikin Nurani menjelaskan, kerangka Homo sapiens yang utuh ditemukan pada kedalaman 115 cm. Kerangka itu berada dalam posisi mirip bayi meringkuk di dalam rahim dengan kedua tangan menjadi bantalan tengkorak dan kaki terlipat.
                 Adapun kerangka Homo sapiens yang lain berada pada kedalaman 155 cm. Namun, tim baru menemukan bagian kaki saja karena posisinya berada di lapisan tanah di bawah kerangka Homo sapiens yang utuh.
                   "Dari hasil penanggalan radiokarbon, kedua kerangka itu berada di lapisan tanah yang berusia antara 16.000 tahun hingga 20.000 tahun lalu. Kami memperkirakan Homo sapiens itu hidup pada zaman Plestosen akhir hingga awal Holosen," kata Indah, Sabtu (28/4/2012) di Blora.
Menurut Indah, temuan itu menguak studi baru tentang manusia prasejarah yang sudah mengenal ritual penguburan. Penguburan manusia tersebut menghadap ke barat atau posisi matahari terbenam, terdapat susunan bongkahan batu gamping, penaburan remis cangkang kerang, dan remukan batu gamping merah.
                 
             Temuan manusia prasejarah itu juga membuka pengetahuan baru tentang kecerdasan manusia prasejarah. Manusia Goa Kidang membuat alat berburu dan meramu dengan teknologi yang lebih maju dibanding temuan jenis Homo sapiens lain.
               
 "              Mereka membuat peralatan dari bahan cangkang kerang dan tulang binatang yang dibentuk dan diasah dengan alat batu. Mereka juga membuat mata anak panah yang terbuat dari tulang," jelas Indah.
               
               Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Informasi, dan Komunikasi Kabupaten Blora, Suntoyo, mengemukakan, temuan itu semakin memperkaya khasanah arkeologi di Blora. Sebelumnya, di Blora banyak ditemukan fosil binatang purba dan manusia prasejarah Homo soloensis, di Ngandong, Kecamatan Kradenan.
             
              " Tentu saja kami akan melindungi dan melestarikan situs itu bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Kami juga menjadikan kawasan itu sebagai kawasan lindung," kata Suntoyo



Situs Goa Kidang Jadikan Museum Alam

Balai Arkeologi Yogyakarta merekomendasikan situs Goa Kidang di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menjadi museum dan laboratorium alam. Hal itu menyusul temuan dua kerangka manusia prasejarah di goa pegunungan karst tersebut.


Satu kerangka masih utuh ditemukan dalam posisi meringkuk seperti bayi di dalam rahim. Adapun yang satunya berupa kerangka kaki.
Keduanya termasuk jenis Homo sapiens yang umur fosilnya 16.000-20.000 tahun lalu. Mereka hidup pada akhir zaman Plestosen hingga awal Holosen.
Ketua Tim Pola Okupasi Goa Kidang Balar Yogyakarta Indah Asikin Nurani, Senin (30/4/2012), mengatakan, temuan itu membuktikan kalau goa karst dipergunakan sebagai hunian manusia prasejarah. Di goa itu ditemukan pula cangkang kerang, baik berupa peralatan maupun sampah.
Goa Kidang sendiri berbentuk ceruk. Ceruk terjadi dari proses alam, yaitu hancurnya salah satu bagian dinding karst yang merupakan penyimpan air pegunungan karst.
"Terdapat dua Goa Kidang. Kami menamakan Goa Kidang A dan AA. Keduanya sangat luas dan berada di bentang alam yang indah," kata Indah.
Untuk itu, Indah menambahkan, lokasi itu sangat bagus jika dijadikan museum dan laboratorium alam. Para peneliti bisa meneliti di sana dan masyarakat umum dapat berkunjung sembari berimajinasi tentang kehidupan manusia ribuan tahun lalu.
"Tentu saja harus ditindaklanjuti dengan penataan lokasi goa dan penambahan sarana dan prasarana seperti diorama manusia prasejarah dan aktivitasnya," kata dia.



Benda Purbakala Watu Joli yang Hilang Telah Ditemukan

Watu joli, benda dari batu bernilai arkeologis (arkaik) yang semula berasal dari situs purbakala Goa Tritis di atas Gunung Budhek, Dusun Kendit, Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, telah ditemukan. Watu joli yang dicuri sejak enam tahun lalu itu ditemukan polisi di rumah seorang pengasuh pondok pesantren.

Batu yang diyakini berasal dari zaman Kerajaan Kediri ini saat ditemukan dalam keadaan terkemas dalam kotak beton dan diduga hendak dijual ke pasar gelap benda purbakala.

Watu joli, berbentuk seperti candi kecil, merupakan bagian dari sejarah Hindu Kuno, berukuran tinggi sekitar 61 sentimeter, lebar atas 26 cm, lebar tengah 29 cm dan lebar bawah 32 cm. Benda ini berongga dengan bagian atas berbentuk stupa yang bisa dilepas dan berfungsi sebagai tutup.

Saat dihubungi, Kepala Museum Tulungagung Hariadi, yang menyertai polisi menyita watu joli, Rabu (2/5/2012), menjelaskan, dulu watu joli diyakini digunakan untuk menyimpan abu jenazah. Benda ini dilaporkan oleh Sutrimo (55), penjaga Situs Goa Tritis, hilang dicuri pada 27 Februari 2006.

"Suatu hari benda itu hilang dari tempatnya semula dan saya yakin itu dicuri orang karena harganya mahal. Maka, saat itu saya langsung lapor ke Polsek Campurdarat," katanya.

Setelah enam tahun menghilang, Selasa (1/5/2012) sekitar pukul 12.00, jajaran Unit Reskrim Polsek Campurdarat berhasil menemukan watu joli tersebut di rumah Gus Maksum, seorang pengasuh pesantren di Dusun Watugedhek, Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat.

Menurut Kapolsek Campurdarat, Ajun Komisaris Suyono, penemuan tersebut berkat laporan dari warga sekitar. Polisi yang menindaklanjuti laporan tersebut melakukan penggrebekan di rumah Gus Maksum. Benda tersebut akhirnya ditemukan di belakang rumah, di dalam sebuah kotak beton yang dilengkapi dengan pintu yang digembok.

Di atas beton tersebut diletakkan sebuah bonsai sehingga tidak ada kesan jika di dalam kotak beton tersebut ada benda purbakala. Saat ditemukan, di dalam kotak beton tersebut juga ditemukan sebuah batu berbentuk seperti Candi Penataran, dengan ukuran yang lebih kecil.

Kedua benda tersebut dibawa ke Polsek Campurdarat beserta Gus Maksum untuk disidik. Namun, sejauh ini polisi belum menetapkan tersangka. "Kami masih melakukan pemeriksaan dan pengembangan kasus ini. Belum ada tersangka karena masih ada beberapa pihak yang harus dimintai keterangan," terang Suyono.


Selasa, 14 Agustus 2012

Ratusan Fosil Manusia Purba Dikoleksi UGM



Pusat Laboratorium Bio Antropologi dan Paleo Antropologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) kini mengoleksi ratusan fosil manusia purba.

Menurut Ketua Kepala Pusat Laboratorium Bio Antropologi dan Paleo Antropologi, Fakultas Kedokteran UGM, Rusyad Suryanto, koleksi itu hasil penelitian yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.

"Termasuk penelitian yang dilakukan di wilayah Jawa Timur di Kabupaten Tulungagung ini," katanya di Tulungagung, Jumat (4/5/2012).

Ia menjelaskan, selama ini tim peneliti UGM telah melakukan penelitian fosil manusia purba di berbagai wilayah, yaitu Bali, Papua dan Jawa Barat serta Jawa Tengah.

Langkah itu sebagai bentuk penyelamatan sejarah atas peristiwa yang terjadi tentang kehidupan manusia purba.

"Demikian juga observasi yang kami lakukan di Tulungagung ini," ucapnya, menambahkan.

Sejak Kamis (3/5/2012), sejumlah ahli arkeologi UGM dan Universitas Airlangga, menggelar observasi fosil dan subfosil kehidupan manusia purba di sekitar Goa Song Genthong, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung.

Kegiatan yang rencananya akan berlangsung hingga selama empat hari itu dikonsentrasikan di dua mulut Goa Song Genthong. Pada penelitian hari pertama, ditemukan beberapa benda yang diduga bagian dari subfosil kehidupan manusia purba.

Rasyad menjelaskan, meski telah ditemukan beberapa benda, namun pihaknya belum memastikan bahwa-benda itu merupakan artefak purbakala yang sedang mereka cari.

Tetapi ia memastikan bahwa di area yang tengah mereka gali memang terdapat jejak sisa manusia purba dengan mengacu temuan sejumlah subfosil pada tahun lalu.

Sumber :
ANT




Minggu, 22 Juli 2012

Sejarah unik Indonesia part 2

Berikut ini adalah kelanjutan dari part one
mau baca? Tinggal tekan kata-kata ini

* Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya", WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

* Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

* Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada "Jalan Soekarno-Hatta" di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.

* Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.

* Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya "lebih dari dua" proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal : Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik.
"Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau", gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.

* Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda.
Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.

* Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang.
Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu.
Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

* Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate !!!
Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki).
"Sate ayam lima puluh tusuk!", perintah Presiden Soekarno.
Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.
sumber: www.indowebster.com

k

Sejarah unik Indonesia part 1

Ada beberapa sejarah unik tentang negara kita :

* Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sekaral yang dinanti-nanti selama lebih dari tiga ratus tahun!

* Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar "orang Indonesia asli". Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu.

* Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

* Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris, Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan "Mr President" atau "Your Excellency", tetapi dengan "Prince Soekarno!"

* Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, "Tahun Vivere Perilocoso" (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!

* Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.
Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

* Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas!
Potongan jasmu bagus sekali!" komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.

* Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang. Byuuur...

* Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar.
Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

* Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama "Abdullah, co-pilot".
Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta.
Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa "Abdullah" itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. "You are a liar !" ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru

sumber: www.indowebster.com


Rabu, 18 Juli 2012

Sejarah unik Indonesia part 2

Ini adalah kelanjutan dari sejarah unik Indonesia yang part 1
Mau baca? Tekan kata"ini

* Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya", WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

* Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

* Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada "Jalan Soekarno-Hatta" di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.

* Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.

* Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya "lebih dari dua" proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal : Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik.
"Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau", gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.

* Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda.
Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.

* Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang.
Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu.
Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

* Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate !!!
Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki).
"Sate ayam lima puluh tusuk!", perintah Presiden Soekarno.
Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

sumber: www.indowebster.com

Sabtu, 14 Juli 2012

Goa Manusia Purba Ditemukan di Tulungagung


Setelah selama ini tak pernah lagi diketahui persis keberadaannya, akhirnya goa tempat dokter Belanda, Eugene Dubois, menemukan tengkorak manusia purba di Kecamatan Wajak, Tulungagung, Jawa Timur, ditemukan.

Goa ditemukan Trijono (41), guru Sejarah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tulungagung, yang juga pemimpin lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (KS2B). Trijono terbawa nalurinya sebagai ilmuwan alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana mencari-cari lokasi kerja Dubois hingga akhirnya menemukannya.

Trijono yang ditemui pada Kamis (12/4/2012) mengungkapkan, dia telah menguji temuannya berdasarkan dokumen dan catatan sejarah Dubois. Dia yakin, lokasi itulah yang merupakan lokasi kerja Dubois yang menemukan tengkorak manusia purba Homo wajakensis tahun 1889. Dengan demikian, situs-situs manusia Jawa yang ditemukan Dubois kian lengkap bersama lokasi temuan Dubois lainnya di Trinil, Ngawi, Jawa Timur, dan di Sangiran, Solo, Jawa Tengah.

"Tentu saja lokasi ini memerlukan sebuah pengujian lengkap dan menyeluruh dari para pakar prasejarah untuk memastikan kebenarannya. Saat ini, tim dari Universitas Gadjah Mada sudah berencana melakukan ekspedisi ke goa ini, selain ekspedisi ke lokasi purbakala lainnya di Tulungagung, pada awal Mei 2012 untuk memastikannya," tutur Trijono.

Sumber informasi mengenai karya Dubois ditulis oleh sejarawan Paul Strom dalam buku yang terbit tahun 1995, Scriptura Geologica, the Evolutionary Significance of the Wajak Skull National Natuurhistorisch Museum, Geboren te's Gravenhage. Setelah membaca buku itu, Trijono menelusuri lokasi tersebut bersama tim K2SB yang dipimpinnya.

Menurut dia, selama ini entah mengapa lokasi kerja Dubois ini tak dikenal lagi oleh masyarakat ilmiah dan masyarakat Tulungagung. Hanya dua lokasi kerja Dubois yang dikenal, yakni di Trinil dan Sangiran, yang kini sudah didirikan museum. "Mengapa bisa dilupakan dan malah tidak diketahui keberadaaannya, saya tidak paham. Saya datang ke Tulungagung tahun 2004 karena diterima bekerja sebagai guru Sejarah di MAN 1. Sejak itu saya mencari-cari, bukan hanya goa Homo wajakensis saja, melainkan juga semua situs sejarah yang lain, termasuk sembilan situs sejarah Majapahit," ungkapnya.

Ada sejumlah tanda tanya, kata Trijono, karena pada masa yang cukup dekat dengan masa sekarang itu Dubois tercatat bekerja di Wajak, bukan Tulungagung. Kini, Wajak adalah nama kecamatan. Itu sebabnya, spesies manusia prasejarah itu dinamai wajakensis. "Lalu, pertanyaan saya, di mana Tulungagung masa 1889? Wajak hanya berjarak 15 kilometer dari Tulungagung. Mengapa tidak dinamai tulungagungensis? Kami belum selesai menjawab soal itu," katanya.

Buku itu kemudian menuntun Trijono hingga ke goa tempat Dubois menemukan tengkorak manusia purba. Salah satu yang paling meyakinkan, Trijono menemukan tugu pabrik marmer zaman Belanda. Dalam laporannya, Dubois menyebutkan, goa manusia purba itu berada di depan tugu marmer tersebut. "Tugu itu saya temukan, persis seperti penjelasan Dubois. Kalau masa sekarang, tugu marmer itu penanda lokasi, seperti kira-kira koordinat GPS," ujar Trijono.

Dubois adalah seorang dokter militer Belanda pada era tanam paksa (cultur stelsel). Seperti ilmuwan Barat umumnya, Dubois gemar melakukan penelitian. Di lokasi-lokasi kerjanya, Dubois mengisi waktu senggang setelah selesai bekerja dengan mencari temuan-temuan purbakala, termasuk saat bekerja di Wajak, Tulungagung.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Tulungagung Hendri Sugiarti menjelaskan, pihaknya menyambut sangat baik temuan ini dan kini malah sudah menyiapkan pembuatan monumen di lokasi tersebut. "Saat ini, kami menyambut kedatangan tim besar prasejarah dari Universitas Gadjah Mada yang hendak melakukan eksplorasi dan penelitian di bekas goa Dubois. Kami berharap akan bisa membuat museum serta menyiapkan sarana dan prasarana untuk menjadikannya lokasi wisata ilmiah. Namun, itu masih akan dibahas oleh pemkab," katanya.

Dikutip dari kompas.com


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...