Tampilkan postingan dengan label fosil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fosil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 September 2012

Jejak Kehidupan Purba di Cekungan Soa


sumber gambar: kompas.com


Sembilan matahari seolah bersinar di atas kepala. Teriknya memanggang Cekungan Soa. Meski musim kering belum mencapai puncak pada Maret, savana telah menguning. Pepohonan hanya merimbun di kanan-kiri Sungai Ae Sisa yang mengalir deras di dasar lembah.

Dari kejauhan, Gunung Ambulombo tinggi menjulang. Dalam naungan langit biru tanpa awan, 150 warga Kecamatan Soa mandi keringat mengorek lapisan tanah bagian atas di lereng-lereng dan dasar lembah dengan cangkul dan sekop. Para arkeolog dan paleontolog memimpin penggalian dengan kuas dan pahat mini. Mereka berpencar di beberapa situs penggalian yang tersebar di Cekungan Soa.

”Tuk, tuk, tuk, tuk…!” Bunyi ketukan palu pada pahat besi meramaikan lembah di kaki tebing curam yang mirip tembok raksasa. Warga setempat menyebut tebing itu sebagai Tangi Talo, artinya tangga yang mustahil didaki.

Setelah berhari-hari terbakar terik matahari, siang itu, dari lubang galian sekitar 1 meter, tulang-belulang menyembul dari kedalaman Bumi. Warna putihnya sudah memudar menjadi coklat kekuningan dan sebagian retak di sana-sini. Tapi, bentuknya masih dikenali.

Gading Stegodon sondaari berukuran sekitar 1,6 sentimeter ditemukan di bagian tengah galian. Di bagian atas terdapat tulang rahang. Sementara tengkorak, tulang belakang, dan rusuknya terserak di bagian bawah.

Tulang-belulang gajah purba itu tercampur dengan tulang pemangsanya, komodo dan buaya. Semua tulang sudah lepas dari sambungan, tidak utuh, mengabarkan pernah terjadinya banjir lumpur pada masa lalu, yang menggulung dan menghanyutkan binatang-binatang ini dari lereng tebing Tangi Talo ke dasar lembah.

Total ada 10 binatang di lubang galian ini, yaitu gajah, komodo, buaya, dan kura-kura. ”Lokasi ini merupakan habitat kehidupan purba yang cukup subur dan ramai,” kata Gerrit Dirk van den Bergh, peneliti paleontologi dari School of Earth and Environmental Sciences, University of Wollongong, Australia. Lelaki ini meneliti fosil binatang di Soa sejak tahun 1993.

”Pada tahun-tahun sebelumnya, kami juga menemukan banyak fosil binatang purba, termasuk tempurung kura-kura raksasa,” kata Erick Setiyabudi, paleontolog dari Pusat Survei Geologi Bandung (PSG). ”Dari ukuran cangkangnya, kura-kura raksasa yang ditemukan di Soa tak kalah dengan yang sekarang masih hidup di Kepulauan Galapagos.”

Kekayaan temuan fosil ini menguatkan cerita ramainya kehidupan di Cekungan Soa saat itu. Kehidupan yang kemudian terenggut tiba-tiba.

"Semua fosil yang ditemukan terlapisi material gunung api,” kata Ruly Setiawan, geolog dari PSG. Kandidat doktor dari Wollongong University ini memfokuskan penelitiannya untuk melacak gunung api yang menghabisi kehidupan di Cekungan Soa. ”Umur lapisan di Cekungan Soa berada dalam rentang 650.000 tahun hingga 1,02 juta tahun lalu. Dalam rentang itulah, gunung api silih berganti meletus dan menciptakan suksesi kehidupan.”

Secara stratigrafi, Cekungan Soa dibagi menjadi dua formasi penting, yaitu Ola Kile sebagai bantalan di lapisan paling bawah serta formasi Ola Bula dan formasi Gero di atasnya. Umur formasi Ola Kile berdasarkan penarikan umur menggunakan metode jejak belah (fission track) batuan adalah 1,86 juta tahun dan umur formasi Ola Bula 880.000 tahun. Adapun formasi Gero sekitar 650.000 tahun.

Fachroel Aziz memastikan bahwa formasi Ola Kile merupakan produk gunung api berupa batuan breksi yang keras. ”Cekungan Soa tadinya berupa cekungan besar, yang kemudian tertutup batuan breksi dari letusan gunung. Batuan breksi susah ditembus air sehingga terbentuklah danau, barulah timbul kehidupan di sekitar danau,” katanya.

Dengan melihat halusnya ukuran batuan gunung api yang melapisi Cekungan Soa, Ruly menduga, sumber letusan itu cukup jauh. Dia memetakan, sedikitnya tiga gunung api yang diperkirakan menjadi penyebab petaka itu. Pertama, gunung api di sisi utara cekungan, yaitu Kaldera Welas, kedua adalah Gunung Kalelambu di sisi timur cekungan, dan ketiga, Gunung Kero di sebelah tenggara Soa.

”Kami masih menunggu hasil penelitian di laboratorium untuk mengetahui kapan ketiga gunung api itu meletus pada masa lalu. Penanggalan usia batuan menggunakan argon-argon memperlihatkan, lapisan vulkanik yang melapisi Soa ini berumur sekitar satu juta tahun,” kata Ruly. ”Jika kita ketemu gunung api yang meletus hebat satu juta tahun lalu, kita bisa tahu sumber bencana di Soa.”

Setelah kehancuran akibat letusan gunung api itu, menurut Ruly, kehidupan yang punah kemudian tergantikan oleh spesies baru. Rerumputan kembali tumbuh subur di cekungan itu. Sungai-sungai kembali mengalirkan air bersih, mengundang kehidupan untuk kembali datang dan bersemi kembali.

Sekitar 880.000 tahun lalu, Cekungan Soa kembali dihuni. Kali ini bukan oleh gajah kerdil, tetapi oleh serombongan gajah besar (Stegodon florensis), tikus besar, dan komodo. Sekelompok manusia purba juga diduga kembali datang.

Namun, petaka kembali terjadi. Sekali lagi, letusan gunung api mengubur kehidupan yang baru bersemi di Cekungan Soa. Banjir lumpur kembali melapisi dan mengawetkan tulang binatang dan alat-alat batu itu.

Lapisan kehidupan tahap kedua inilah yang ditemukan Iwan Kurniawan, palentolog dari PSG, di lembah sempit yang berada di tengah-tengah Cekungan Soa. Situs yang diberi nama Mata Menge ini berada di ketinggian 325 meter di atas permukaan laut, dikepung perbukitan.

Situs Mata Menge, menurut Iwan, sudah diteliti oleh tim PSG bekerja sama dengan University of New England sejak akhir tahun 1990-an. Penggalian sebelumnya telah menemukan fosil Stegodon florensis, komodo, buaya, dan moluska air tawar. Selain itu juga ditemukan sedikitnya 200 alat batu yang umumnya terdiri atas serpih bilah dan batu inti.

Berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Mata Menge, tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melakukan penggalian di Kobatuwa. Situs ini berupa lembah yang bagian tengahnya dibelah sungai yang mengering saat kemarau. Nama Kobatuwa diartikan penduduk sebagai tali hutan karena wilayah ini dulu merupakan hutan yang ditumbuhi tanaman belukar dengan akar sangat lebat.

”Di Kobatuwa, kami menemukan beragam artefak batu yang melimpah dan fragmen fosil tulang serta gigi hewan vertebrata yang umumnya jenis hewan stegodon,” kata Jatmiko, arkeolog dari Puslit Arkenas. ”Sebagian temuan didapatkan dalam keadaan masih melekat di lapisan tanah aslinya.”

Pada umumnya, temuan artefak di Kobatuwa didominasi jenis alat-alat serpih bilah. Penelitian melalui analisis jejak belah terhadap endapan tufa putih yang melapisi situs mengungkap, situs ini berusia sekitar 700.000 tahun.

Berbagai temuan alat batu ini semakin menguatkan hipotesis Father Theodor Verhoeven bahwa Cekungan Soa pernah dihuni manusia purba. Pada tahun 1968, pastor berkebangsaan Belanda ini menemukan fosil stegodon dan artefak alat batu di Cekungan Soa. Verhoeven yang pernah belajar arkeologi itu menggali lapisan tanah di beberapa lokasi di Cekungan Soa, yaitu Mata Menge, Boa Lesa, dan Ola Bula.

Verhoeven melaporkan temuannya berupa alat batu dan tulang stegodon di balik lapisan abu gunung api. Karena stegodon hidup di Indonesia sekitar 750.000 tahun lalu, dia mengklaim bahwa alat batu itu juga berasal dari tahun yang sama. Namun, temuan itu tak banyak mendapatkan respons karena tiadanya kepastian umur batuan.

Setelah lama terabaikan, tahun 1991-1992, tim gabungan dari The Netherlands National Museum of Natural History bersama dengan PSG yang waktu itu masih bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G) melakukan penggalian di Mata Menge. Tim ini juga melakukan pengujian paleomagnetik untuk mengetahui umur lapisan batuan yang mengubur fosil dan artefak batuan.

Pada tahun 1994, P3G melanjutkan penggalian di Cekungan Soa bekerja sama dengan The University of New England, Australia. Penelitian itu berlangsung hingga saat ini dan telah menemukan 12 situs artefak dan fosil. Tersebar di bagian tengah cekungan, di bagian barat dengan situs Mata Menge, Kobatuwa, Boa Lesa, dan Lembah Menge. Di bagian utara terdapat kelompok Tangi Talo dan Ola Bula. Di bagian timur-tenggara terdapat kelompok Dhozo Dalu, Sagala, Ngamapa, dan Kopowatu.

Dari semua situs yang digali, ditemukan aneka jenis binatang purba dan alat batu. Namun, penggalian di Cekungan Soa belum menemukan tulang-belulang manusia purba. ”Berdasarkan bentuk alat-alat batu yang ditemukan, kami menduga manusia purba di sini adalah nenek moyang Homo florensiensis di Liang Bua,” kata Mike. ”Tetapi, semua teori ini masih spekulatif, sampai kami bisa menemukan fosil manusia purba di sini,” kata Mike, arkeolog tua ini sambil menghela napas.

Adam Brumm, research fellow pada University of Wollongong, Australia, mengungkapkan, temuan manusia purba di Flores juga bakal mengubah peta migrasi sejarah manusia. ”Kita akan punya bukti bahwa ada migrasi manusia dari timur. Ini menarik dan pasti akan mengejutkan dunia,” katanya.

Senja temaram di Cekungan Soa. Suasana sepi. Warga lokal yang bekerja sebagai penggali sudah pulang ke rumah. Mike baru saja beranjak dari lubang galian di Mata Menge menuju base camp di Desa Mengeruda ketika dia berkata dengan lirih, ”Satu gigi pun cukup. Satu tubuh, tentu akan lebih baik.”


Sumber :
Kompas Cetak, kompas.com



Rabu, 29 Agustus 2012

Fosil Manusia Modern Tertua di Asia Ditemukan




Fosil tengkorak manusia modern ditemukan di gua Tam Pa Ling, gua di kawasan karst Gunung Pa Hang di Laos yang juga sering disebut Gua Monyet.
Para ilmuwan menemukan fosil itu pada tahun 2009. Fosil yang ditemukan merupakan fosil manusia modern tertua di Asia.
Penanggalan pada sedimen dimana fosil itu ditemukan menunjukkan, bahwa umur fosil antara 46.000 - 51.000 tahun. Sementara, penanggalan langsung pada fosil menunjukkan, bahwa fosil berusia 63.000 tahun.
Penemuan fosil ini membantu ilmuwan memahami migrasi manusia di Asia. Berdasarkan bukti arkeologis, manusia mulai bergerak dari afrika ke Asia Tenggara pada 60.000 tahun yang lalu.
Namun, selama ini belum ada penemuan fosil di Asia. Temuan ini mengisi gap yang ada.
Laura Lynn Shackelford, peneliti palaeoanthropologi dari University of Illinois yang menemukan fosil ini menyatakan, penemuan ini mengubah pemahaman tentang migrasi manusia di Asia. Rute migrasi lebih banyak dari perkiraan.
"Pemahaman saat ini menyatakan, sekali manusia modern bergerak dari pantai India ke Asia Tenggara, mereka pergi ke selatan ke Indonesia dan Australasia (area melingkupi Australia, Selandia baru dan kepulauan Pasifik," kata Shackelford seperti dikutip Livescience, Senin (20/8/2012).
"Kami berpikir bahwa itu memang terjadi. Tapi kami juga berpikir bahwa ada populasi lain yang bermigrasi ke utara atau timur laut Cina dan beberapa ke pegunungan di daratan utama Asia Tenggara, memanfaatkan sungai. Sebelumnya, tak ada yang tahu mereka akan ke pegunungan Laos, Vietnam dan Thailand," lanjutnya.
Ke depan, peneliti berencana mengekstrak DNA pada fosil yang menyelidiki hubungan antara manusia yang kini memfosil itu dan manusia yang pernah atau masih hidup saat ini. hasil penelitian ini dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences.
Sumber :
LIVESCIENCE, kompas.com






Minggu, 26 Agustus 2012

Peninggalan Purbakala Dalam Laut Dicuri


Sebagian benda kuno muatan kapal Inggris yang diperkirakan dari masa akhir tahun 1800-an yang berada pada kedalaman 17 meter di perairan Natuna, Kepulauan Riau, dicuri. Kini, sebagian barang curian, di antaranya berupa benda-benda dari keramik, itu disita di Kepolisian Resor Natuna.
Menurut Koordinator Kelompok Kerja Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar—yang membawahkan Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau—Teguh Hidayat, Kamis (30/8), barang-barang curian itu hendak diselundupkan lewat jasa kargo. ”Digagalkan saat Lebaran lalu,” kata dia.
Penggagalan itu dilakukan setelah peneliti Arkeologi Maritim dan Kepala Subseksi Pelayanan Teknis Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan Nia Naelul Hasanah berkoordinasi dengan polisi. Dugaan sementara, barang-barang bersejarah itu dicuri dengan jasa para penyelam asal Vietnam.
Menurut Teguh, terhadap barang-barang muatan lain yang masih ada di dasar samudra perlu segera diekskavasi atau setidaknya diamankan. ”Kalau tidak segera dilakukan, barang-barang yang masih tersisa bisa dicuri lagi dan kemungkinan habis,” kata Teguh.
Secara khusus, Nia yang pernah menyelam di lokasi Natuna mengusulkan agar ada ekskavasi pada tahun 2013 mendatang. Namun, sebelum itu terwujud, sudah terjadi pencurian.
Teguh mengatakan, saat ini tim BP3 Batusangkar menunggu kajian tim pemerintah pusat dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman yang berada di lokasi. Nantinya, berdasarkan laporan tim tersebut, akan dilakukan pemilahan barang-barang temuan itu.
Sumber :
Kompas Cetak


Sabtu, 25 Agustus 2012

Kota Tua di Mesir Menyimpan Potongan-potongan Tangan


Axel KrauseSalah satu potongan tangan kanan yang ditemukan di Istana Hiksos di Avaris (kini Tell el-Daba) di Mesir.
KAIRO, KOMPAS.com - Kota tua Avaris di Mesir menyimpan potongan-potongan tangan manusia. Para ilmuwan menemukannya lewat penggalian baru-baru ini di mana ada 16 potongan tangan yang ditemukan terkubur di empat sumur penggalian berbeda.

Dua sumur yang digali itu diduga terletak di ruang tahta raja istana kuno di Mesir. Masing-masing sumur itu menyimpan 1 tangan. Adapun dua sumur lain yang terletak di luar ruangan raja menyimpan 14 potongan tangan lainnya. Semua potongan tangan merupakan tangan kanan. Tak ada satu pun yang tangan kiri.

"Kebanyakan dari tangan-tangan itu adalah berukuran besar dan sangat besar," kata Manfred Bietak, pimpinan proyek ekskavasi, seperti dikutip Live Science, Jumat (10/8/2012).

Tangan-tangan tersebut tepatnya ditemukan di wilayah delta Sungai Nil, sebelah timur laut Kairo. Tangan-tangan itu adalah milik dari orang yang hidup 3.600 tahun lalu ketika kaum Hiksos, orang-orang dari utara Kanaan, menguasai Mesir dan mendirikan pusat pemerintahan di Avaris, lokasi yang kini menjadi bagian dari kota Tell el-Daba. Saat tangan-tangan itu dipendam, kerajaan setempat sedang diperintah oleh Raja Khayan.

Dalam publikasinya di jurnal Egyptian Archaeology, Bietak mengungkapkan bahwa penemuan ini menjadi bukti adanya ritual pemotongan tangan yang selama ini dideskripsikan dalam seni maupun naskah-naskah Mesir Kuno. "Bukti kami adalah bukti paling tua dan satu-satunya bukti fisik yang ada," ujar Bietak.

Menurut Bietak, praktik pemotongan tangan biasa dilakukan oleh prajurit. Setiap prajurit akan mendapatkan emas jika berhasil memotong tangan kanan musuh. Pemotongan tangan kanan sama dengan mengurangi kekuatan musuh.

Bietak mengatakan belum dapat mengetahui pemilik tangan-tangan itu. Pemiliknya bisa saja orang Mesir maupun orang Hiksos. Menurutnya, praktik pemotongan tangan memang sudah menjadi tradisi Mesir dan Hiksos. Namun, belum diketahui dari mana asal usul praktik itu. Tradisi itu dimulai oleh salah satu bangsa tersebut ataupun "diimpor" dari tempat lain.

Pemotongan tangan bukan satu-satunya praktik kejam di Mesir kuno. Narmer Palate, objek berasal dari 5.000 tahun lalu, menunjukkan bahwa Firaun Mesir melakukan pemenggalan kepala atau menghancurkan kepala manusia yang sedang berlutut padanya.
Sumber :
LIVESCIENCE, kompas.com

i

Rabu, 22 Agustus 2012

Moyang Manusia Ternyata Beragam


Temuan fosil tengkorak baru mengonfirmasi adanya spesies Homo rudolfensis sekaligus menunjukkan bahwa nenek moyang manusia ternyata beragam.

Fosil ditemukan di gurun Koobi Fora, wilayah utara Kenya. Fosil kunci yang menunjukkan eksistensi H rudolfensis ialah fosil rahang bawah fosil wajah anakan manusia purba itu.

"Fosil ini memiliki wajah yang datar, Anda bisa membuat garis lurus dari bagian matanya ke gigi seri fosil itu," kata Fred Spoor dari Max Planck Institute of Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, yang terlibat riset, seperti dikutip Livescience, Rabu (8/8/2012) lalu.

"Fosil ini punya ciri yang berbeda, benar-benar menunjukkan sesuatu yang baru. Saya yakin kita tidak hanya melihat variasi dalam satu spesies," tambah Meave Leakey, palaentolog Turkana Basin Institute di Nairobi.

H rudolfensis pertama kali dideskripsikan berdasarkan fosil tengkorak yang ditemukan pada tahun 1972 di Kenya, disebut KNM-ER 1470.

Saat itu, telah dikenal spesies H habilis dan H sapiens yang juga nenek moyang manusia. H rudolfensisdianggap berbeda karena memiliki ukuran lebih besar dari H habilis.Sayang, bagian yang ditemukan bukan wajah dan rahang. Dengan demikian, palaentolog masih sulit menyatakan bahwa fosil itu memang H rudolfensis.Temuan fosil kali ini membuat ilmuwan lebih yakin bahwa H rudolfensis memang eksis, hidup bersama H habilis dan H sapiens.Meski demikian, keyakinan tak 100 persen. Fosil rahang bawah dengan kode KNM-ER 1802 memiliki bagian atas mulut yang lebih melingkar, ciri yang tak dimiliki H rudolfensis.Ilmuwan memprediksi, fosil ini merupakan milik spesies H habilis. Namun, hingga fosil H habilisditemukan, ilmuwan juga belum bisa meyakini. Bisa jadi, fosil itu juga merupakan milik spesies lain.

Seperti diberitakan Nature, Rabu minggu lalu, penemuan ini menunjukkan bahwa nenek moyang manusia beragam, hidup berdampingan pada 1,7 hingga 2 juta tahun lalu.

Selama ini, dipahami bahwa evolusi manusia berlangsung layaknya satu garis lurus, satu spesies moyang punah digantikan satu spesies baru lainnya. Lewat riset ini terungkap bahwa mungkin saja lebih dari satu spesies moyang hidup pada masa yang sama dan saling berkompetisi. Yang menang, dialah yang eksis dan mampu bertahan.


Sumber :
Nature, Livescience, kompas.com


Selasa, 21 Agustus 2012

Kuil Kuno Maya Ditemukan di Guatemala




Arkeolog menemukan kuil kuno Maya yang berusia 1.600 tahun yang diduga merupakan tempat pemujaan kepada Matahari. Kuil itu ditemukan di situs arkeologi El Zotz, 550 km utara Guatemala City.

"Matahari merupakan unsur penting dalam kebudayaan maya. Matahari adalah sesuatu yang terbit setiap hari, menyinari setiap sudut dan celah, seperti halnya kekuasaan raja," kata Stephen Houston, profesor Brwon University yang terlibat penelitian.

"Bangunan ini adalah salah satu yang merayakan hubungan erat antara raja dan kekuatan yang paling kuat dan dominan di semesta," imbuh Houston yang bersama rekannya telah mempelajari situs El Zotz sejak tahun 2006 lalu.

Arkeolog mengatakan, kuil yang ditemukan sengaja dibangun untuk menghormati seorang tokoh pemimpin yang dikubur di bawah Diablo Pyramid, gubernur dan pendiri dinasti El Zotz pertama, bernama Pa'Chan atau langit yang diperkaya.

Penanggalan karbon yang dilakukan mengungkap, kuil Maya yang ditemukan berasal dari masa 350 - 400 Masehi. Peradaban maya menyebar ke Meksiko, Guatemala, Honduras, El Salvador, dan Belize. Diperkirakan, puncak peradaban maya adalah antara tahun 250 - 900 Masehi.

Kuil yang ditemukan dihiasi dekorasi berbentuk topeng dari bahan semen, setinggi 1,5 meter, yang masing-masing menggambarkan fase Matahari bergerak dari timur ke barat. Dekorasi lain adalah plesteran dari semen yang oleh tim peneliti dikatakan sangat mengagumkan.

Thomas Garrison, arkeolog University of Southern California yang juga terlibat penemuan dalam konferensi pers pada Rabu (18/7/2012) di Guatemala City mengatakan bahwa lebih dari setengah bagian kuil masih harus diekskavasi.

"Kuil mungkin memiliki 14 topeng pada dekorasi dinding bagian atas, tapi hanya 8 dianataranya yang sudah didokumentasikan sejauh ini," kata Edwin Roman, arkeolog dari University of Austin seperti dikutip AFP, Rabu kemarin.
Sumber :AFP, kompas.com



Senin, 20 Agustus 2012

Moyang Manusia Sudah Mengenal Obat-obatan


Moyang manusia yang sering disebut manusia goa, yakni Neanderthals (Homo neanderthalensis), terbukti telah mengonsumsi daun-daunan dengan memanggangnya dan mungkin memanfaatkannya sebagai obat-obatan.

Hal tersebut terungkap dari hasil penelitian Karen Hardy, antropolog dari Autonomous University of Barcelona di Spanyol yang dipublikasikan di jurnal Naturwissenschaften (The Science of Nature).

Hardy meneliti lima fosil Neanderthals yang ditemukan di Goa El Sidron di wilayah utara Spanyol. Ia melakukan observasi pada plak gigi fosil yang sudah berusia 50.000 tahun itu untuk mengungkap diet makanan Neanderthals.

Pada plak gigi ditemukan jejak nutrisi yang dimakan Neanderthals, di antaranya berupa kacang, rerumputan, sayur-sayuran, jejak kimia asap kayu serta amilum sebagai bukti bahwa moyang manusia itu sudah mengonsumsi karbohidrat.

Analisis pada salah satu spesimen mengungkap adanya jejak yarrow dan chamomile. Herba itu tak memiliki nilai nutrisi dan memiliki rasa pahit. Ilmuwan berpendapat bahwa dua herba itu dikonsumsi bukan sebagai makanan, melainkan obat-obatan.

Michael Chazan dari University of Toronto seperti mengatakan bahwa makanan yang terasa pahit bisa saja masuk sebagai produk samping memasak. Sementara itu, Richard Wrangham dari Harvard University mengatakan, bisa saja yarrow dan chamomile dipakai sebagai bumbu.

Namun, Hardy tidak setuju dengan hal tersebut. Belum ada bukti bahwa Neanderthals mempunyai panci untuk memasak. Selain itu, analisis secara genetik juga mengungkap bahwa Neanderthals bisa merasakan pahit.

Hardy yakin bahwa Neanderthals menggunakan dedaunan yang terasa pahit sebagai bahan obat, seperti halnya para herbalis modern yang memakainya sebagai obat antiseptik dan antibengkak.

"Semua primata tingkat tinggi menggunakan tanaman obat, jadi mungkin Neanderthals melakukannya juga," kata Hardy seperti dikutip Nature, Rabu (18/7/2012).


Sumber :
Nature, kompas.com


Minggu, 19 Agustus 2012

Lapisan Kehidupan di Liang Bua

Liang Bua, goa besar di Kecamatan Ruteng, Manggarai, Flores, ibarat buku yang mengisahkan tentang pelapisan kebudayaan di masa lalu yang dihancurkan oleh letusan gunung api. Lantai goa ini terdiri dari lapisan tufa atau endapan material vulkanik lembut yang terkonsolidasi. Tufa tersebut berasal dari hasil letusan gunung api, entah dari mana asalnya. Hingga kini, belum ada penelitian yang fokus mengungkap asal tufa tersebut.

Thomas Sutikna dari Puslit Arkenas yakin bahwa Liang Bua bekali-kali tertimbun letusan gunung api. Lapisan paling tebal kebetulan menjadi pembatas antara temuan dunia modern dan dunia purba. Dunia modern di Liang Bua dibatasi usia hingga 10.000 tahun lalu. Sementara dunia purba yang mengindikasikan kehadiran manusia berusia paling tua hingga 95.000 tahun lalu.

Dengan adanya lapisan tufa tebal ini, Thomas menduga manusia purba tak mungkin bertemu dalam satu masa dengan manusia modern. Tebal lapisan tufa 1-2 meter. Di atas tufa itu masih ada lapisan atas yang tebalnya hingga ke permukaan tanah 4-6 meter.

Di lapisan atas, usianya paling tua dibatasi hingga 10.000 tahun. Di lapisan atas ini, ketika digali pertama kali, ditemukan pecahan tembikar dan kapak corong yang terbuat dari perunggu. Lapisan teratas ini diduga berumur 450 tahun yang sudah masuk masa sejarah, tetapi budayanya masih dianggap prasejarah.

Di bawah tembikar yang berusia sekitar 4.000 tahun ditemukan kerangka manusia lengkap dengan bekal kuburnya berupa beliung, periuk, kendi, dan taring babi. Di lapisan ini, tahun 1965, ditemukan enam kerangka manusia oleh Verhoeven. Setelah itu, tahun 1978 juga ditemukan enam kerangka oleh tim Arkenas. Menurut Jatmiko dari Arkenas, dalam penggalian tahun 1998 kembali ditemukan dua kerangka manusia dengan alat kuburnya.

Di bawah kerangka, masih di lapisan atas dalam rentang maksimal 10.000 tahun, kemudian ditemukan banyak tulang babi, rusa, kerbau atau sapi, dan monyet. ”Mereka termasuk fauna modern,” kata Thomas.

Dalam stratigrafi situs Liang Bua yang dibuat tim Arkenas, jelas terlihat bahwa tufa tersebut seperti menutup sebuah zaman yang dihuni oleh manusia purba. Tepat di bawah tufa tebal tersebut, tepatnya enam meter dari permukaan tanah, pada tahun 2003, tim peneliti berhasil menemukan rangka Homo floresiensis.

Homo floresiensis ini diperkirakan tinggal dalam rentang usia 18.000 tahun hingga maksimal 95.000 tahun silam. Di bawah kerangka Homo floresiensis ini kemudian ditemukan banyak tulang gajah purba kerdil yang terkonsentrasi bersama artefak batu. ”Diduga, alat batu tersebut digunakan manusia purba untuk menguliti stegodon,” kata Jatmiko. ”Stegodon yang ditemukan didominasi yang masih kecil atau remaja.”

Dari segi peralatan, kata Jatmiko, manusia purba telah memanfaatkan sumber daya lokal berupa batu untuk berburu dan meramu makanan. Mereka memilih bahan batu itu bukan sembarangan. Mereka sangat cerdik dan hanya memilih batuan yang berkualitas tinggi. ”Contohnya mereka hanya pilih batuan chert dan kalsedon, bukan batuan andesit yang gampang rapuh,” katanya.

Chert jika dipangkas akan memiliki sisi tajam yang seperti silet. Ini fungsinya untuk menguliti binatang seperti stegodon. ”Batuan tajam ini bisa berfungsi sebagai pisau untuk meraut kayu dan bambu,” tutur Jatmiko.

Di lapisan yang usianya diperkirakan 18.000 hingga 38.000 tahun, ditemukan fosil komodo dan kura-kura raksasa.

Sumber: kompas.com


Sabtu, 18 Agustus 2012

Manusia Modern adalah Ancaman Terbesar Neanderthals


Para ilmuwan awalnya memperkirakan bahwa manusia Neanderthals (Homo neanderthalensis) punah akibat iklim dingin ekstrem dan erupsi vulkanik besar. Namun, studi terbaru mengungkapkan bahwa manusia modern (Homo sapiens) adalah penyebab utama kepunahan spesies itu.

Studi tersebut dilakukan oleh Professor John Lowe dari Royal Holloway, University of London. Hasil studi dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences yang terbit baru-baru ini. Lowe meneliti sisa-sisa abu hasil erupsi Campanian Ignimbrite pada 40.000 tahun yang lalu di Yunani, Laut Agaean, Libya, dan gua di Eropa Tengah. Letusan gunung itu diduga mengirim abu ke atmosfer dan menyebabkan sinar matahari terblokir dan iklim dingin setelahnya.

"Hasil riset kami mengungkapkan bahwa efek kombinasi erupsi vulkanik dan pendinginan gagal menyebabkan dampak jangka panjang bagi Neanderthals atau manusia modern awal di Eropa," kata Lowe dalam publikasinya.

"Kami menyimpulkan bahwa manusia modern lebih mengancam populasi Neanderthals dibandingkan dengan bencana alam," ujar Lowe seperti dikutip AFP, Selasa (24/7/2012).

Menurut ilmuwan, Neanderthals tidak bisa menandingi manusia modern dalam mencari sumber makanan sebab Homo sapiens memiliki peralatan, senjata, serta kemampuan komunikasi lebih baik.





























































  
















































































   
  Sumber :AFP, kompas.com                                                                                                                           

        






Jumat, 17 Agustus 2012

Fosil Ungkap Rahasia Adaptasi Perubahan Iklim


Palaentolog menemukan beragam fosil makhluk hidup di sebuah gua wilayah utara Australia. Fosil yang ditemukan beragam, seperti hewan pengerat yang berukuran kecil hingga kanguru raksasa. Spesimen fosil tertua yang ditemukan berumur 500.000 tahun.

Gilbert Price, palaentolog dari University of Queensland mengungkapkan, wilayah gua tempat ditemukannya fosil itu sebelumnya merupakan hutan hujan namun kini berubah menjadi daerah padang rumput kering.

Dengan perubahan habitat yang diketahui, ilmuwan menduga bahwa fosil-fn samplingosil yang ditemukan bisa mengungkap rahasia bagaimana makhluk hidup survive beradaptasi di tengah perubahan iklim.

"Yang kami lakukan di sini adalah melihat dengan cermat fosil yang ada dan melihat hewannya serta bagaimana mereka merespons perubahan iklim masa lalu. Itu sangat relevan saat ini," kata Price.

Selama ini, ilmuwan bertanya-tanya bagaimana dampak perubahan iklim pada makhluk hidup. Tapi dampak yang sebenarnya sulit diramalkan sebab tidak ada studi dengan sampling yang cukup pada fauna saat ini.

"Memiliki pemahaman tentang bagaimana makhluk hidup merespon perubahan iklim pada masa lalu sangat luar biasa. Ini sesuatu yang bisa kita gunakan pada model untuk konservasi di masa yang akan datang," jelas Price seperti dikutip AFP, Rabu (25/7/2012).

Menurut peneliti, hewan-hewan kecil yang telah menjadi fosil bisa masuk ke dalam gua karena dibawa predator. Sementara, kanguru raksasa ukuran 2,2 meter dan berat 180 kg masuk lewat mulut gua dengan berguling.

Menurut Price, paling tidak butuh waktu satu tahun untuk mengangkat seluruh fosil yang ada. Sementara, untuk mempelajari seluruhnya, kemungkinan akan memakan waktu seumur hidup manusia.
Sumber :
AFP, kompas.com

Kamis, 16 Agustus 2012

Makam Pangeran Suku Maya Ditemukan




Arkeolog menemukan tulang belulang berumur 1300 tahun yang diduga merupakan pangeran suku Maya yang dimakamkan di kompleks kerajaan di kota tua Uxul, Meksiko, dekat dengan perbatasan Guatemala.

Tulang belulang dari pangeran tersebut ditemukan di dalam makamnya dalam posisi tidur dengan tangan terlipat di atas perut. Makam pangeran itu terletak 1,5 meter di bawah lantai kompleks kerajaan.
Ketika arkeolog mengarahkan kamera ke dalam makam, mereka menemukan keramik di bawah kaki dari tulang pangeran tersebut. Total, ada 9 keramik yang ditemukan, termasuk keramik dengan motif garis hitam khas Maya yang menutupi tengkorak. Di situs Maya, penemuan ini tergolong umum.
Keramik yang ditemukan memberi petunjuk individu yang dikubur. Terdapat tulisan "Ini adalah gelas minum dari seorang pria/pangeran muda".

Meski kemungkinan individu tersebut adalah seorang pangeran, ia tampaknya tidak akan memegang takhta pada masa itu. Alasan yang menguatkan, penanda status seperti batu giok tidak ditemukan.
Salah satu keramik memberi petunjuk waktu, yakni tahun 711 Masehi.

"Mungkin gelas minum itu didedikasikan pada saat itu, dan jika kita berasumsi bahwa gelas itu milik seseorang yang mati pada umur 20 atau 25, kurang lebih bisa menentukan tanggalnya," kata Kai Delvendahl, direktur proyek penelitian University of Bonn seperti dikutip Livescience, Senin (30/7/2012).
Penemuan makam ini bukan pertama kalinya di Uxul. Beberapa makam lain telah ditemukan.

Uxul adalah kota tua yang kini terletak di dalam hutan serta hanya bisa diakses selama 2 atau 3 bulan dalam setahun selama musim kering. Peneliti menemukan bukti bahwa Uxul dikuasasi oleh Dinasti Calakmul.

Penanda waktu pada gelas minum menunjukkan bahwa pria yang ditemukan dalam kubu itu meninggal 90 tahun setelah Dinasti Calakmul kehilangan kekuasannya di Uxul.

Sumber : LIVESCIENCE, kompas.com

Rabu, 15 Agustus 2012

Reptil Berbulu Hidup 240 Juta Tahun Lalu




Para palaentolog percaya bahwa reptil berbulu pernah hidup 230-240 juta tahun lalu, beberapa lama sebelum dinosaurus atau 70-80 juta tahun sebelum burung purba ada.

Spesies reptil bersayap yang pernah eksis itu adalah Longisquama insignis. Spesimen spesies itu pernah ditemukan dalam bentuk fosil di Kyrgystan pada tahun 1960.

Beberapa ilmuwan beranggapan bahwa bulu-bulu yang ada di fosil bukan milik L. insignis. Namun, peneliti lain menganggap sebaliknya. Studi terbaru mengungkap bahwa Longisquama memang memiliki bulu.

"Fitur aneh pada kulit Longisquama bisa jadi berupa sisik maupun bulu. Fitur itu mungkin terkait evolusi awal bulu pada petranosaurus dan dino," kata Micahel Butchwitz dari Freiburg University, Jerman, seperti dikutip New Scientist, Jumat (23/3/2012).

Butchwitz menganalisis ulang fosil. Ia menemukan bahwa struktur bulu benar-benar berakar di kulit, berdekatan dengan tulang. Jadi, bulu tersebut memang merupakan bagian tubuh Longisquama.

Evolusi L. insignis kemudian melahirkan pteranosaurus, buaya, dinosaurus, dan burung. Masing-masing menumbuhkan fitur kulitnya sendiri.


Sumber :
NewScientist, kompas.com


Fosil Dinosaurus Berbulu Terbesar Ditemukan





 Xu Xing, peneliti dari Institute of Vertebrate Palaentology and Palaeoanthropology di Beijing, China, menemukan spesies baru dinosaurus yang dinobatkan sebagai satwa berbulu dengan ukuran terbesar.
Spesies baru tersebut dideskripsikan dari tiga spesimen fosil yang ditemukan di Provinsi Liaoning, timur laut China. Satu spesimen ialah individu dewasa, sedangkan dua lainnya adalah anakan.
Jenis dinosaurus terbesar yang ditemukan diberi nama Yutyrannus huali, diambil dari bahasa Latin dan Mandarin yang berarti raja yang besar dan menawan.
Ilmuwan memperkirakan bahwa dinosaurus tersebut hidup sekitar 125 juta tahun lalu. Ukuran berat jenis dinosaurus ini ketika dewasa bisa mencapai 1,4 ton.
"Bulu Yutyrannus seperti filamen yang sederhana. Bulunya lebih seperti bulu anak ayam modern daripada bulu burung dewasa yang kaku," papar Xing seperti diberitakan AFP, Kamis (5/4/2012).
Penemuan ini membuktikan adanya dinosaurus berbulu. Ilmuwan berpendapat, bulu dinosaurus bisa berfungsi sebagai penghangat, menarik pasangan, maupun unjuk kegagahan saat berkelahi.
Yutyrannus huali masih merupakan kerabat Tyranosaurus rex yang hidup hingga 65 juta tahun lalu, saat asteroid raksasa diperkirakan menumbuk Bumi dan memusnahkan sebagian besar makhluk hidup.
Perbedaannya, jika T-rex memiliki dua jari fungsional, Yutyrannus hulai memiliki tiga jari fungsional. Selain itu, jenis baru ini juga punya kaki yang khas, berbeda dengan kerabat T-rex lainnya.
Meski berbulu, Yutyrannus huali terlalu berbulu untuk bisa terbang. Namun, ilmuwan tetap memercayai bahwa burung masa kini merupakan hasil evolusi dinosaurus yang suka hinggap di pohon dan akhirnya belajar terbang.
Selain berbulu, dinosaurus jenis baru ini juga memiliki gigi tajam. Kaki dinosaurus ini lebih pendek dari kaki belakangnya sehingga gerakan dinosaurus lebih didukung oleh kaki belakang.
Penemuan dinosaurus ini dipublikasikan di jurnal Nature.


Sumber :
AFP, kompas.com



Tulungagung Sudah Punya Replikasi Homo Wajakensis


Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kini sudah memiliki replika tengkorak manusia purba Homo Wajakensis. Tengkorak manusia purba ditemukan Eugene Dubois, dokter berkebangsaan Belanda, di wilayah Desa Gamping, Kecamatan Campur Darat, Kabupaten Tulungagung, tahun 1889.
Replika itu didapat dari Museum Geologi Bandung dan menurut rencana bakal dijadikan bagian dari rencana menghidupkan lokasi Gua Lawa, tempat Dubois bekerja, sebagai tujuan wisata ilmiah.

Koordinator Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (K2SB) Triyono menyatakan sudah melihat replika tengkorak tersebut. Ia yakin akan menjadi daya tarik baru bagi pembelajaran sejarah bagi siswa sekolah menengah hingga perguruan tinggi.

"Replika tengkorak ini belum akan dipamerkan, karena lokasi bakal didirikannya monumen dan museum di depan Gua Lawa dan tugu marmer tempat Dubois bekerja, kini masih berupa tanah kosong. Masih perlu waktu dalam hitungan bulan untuk akhirnya bisa dinikmati," kata Triyono, Rabu (18/4/2012) di Tulungagung.

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pemkab Tulungagung sudah berkomunikasi dengan DPRD setempat dan berharap alokasi anggaran untuk pemanfaatan lokasi situs Homo Wajakensis, sebagai kawasan cagar budaya.

"Konsepnya sama persis dengan konsep museum di lokasi temuan tengkorak manusia purba lainnya hasil ekskavasi Dubois di Trinil (Ngawi) dan Sangiran (Solo) berupa manusia purba Pitecanthropus Erectus," kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tulungagung Hendri Sugiharti.

Dikutip dari: Kompas.com


Dua Kerangka Manusia Prasejarah Ditemukan di Goa Kidang


                 Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan dua kerangka manusia prasejarah di Goa Kidang, Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Satu kerangka Homo sapiens atau manusia prasejarah yang sudah berpikir maju itu ditemukan utuh beserta kerangka kaki.
Goa Kidang berada di kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara dan berjarak sekitar 35 kilometer dari kota Blora. Goa itu berupa ceruk gunung karst sedalam 15 meter dari permukaan tanah bukit karst. Untuk masuk ke dalam goa tersebut harus menuruni jalan setapak.
Ketua Tim Pola Okupasi Goa Kidang Balai Arkeologi Yogyakarta Indah Asikin Nurani menjelaskan, kerangka Homo sapiens yang utuh ditemukan pada kedalaman 115 cm. Kerangka itu berada dalam posisi mirip bayi meringkuk di dalam rahim dengan kedua tangan menjadi bantalan tengkorak dan kaki terlipat.
                 Adapun kerangka Homo sapiens yang lain berada pada kedalaman 155 cm. Namun, tim baru menemukan bagian kaki saja karena posisinya berada di lapisan tanah di bawah kerangka Homo sapiens yang utuh.
                   "Dari hasil penanggalan radiokarbon, kedua kerangka itu berada di lapisan tanah yang berusia antara 16.000 tahun hingga 20.000 tahun lalu. Kami memperkirakan Homo sapiens itu hidup pada zaman Plestosen akhir hingga awal Holosen," kata Indah, Sabtu (28/4/2012) di Blora.
Menurut Indah, temuan itu menguak studi baru tentang manusia prasejarah yang sudah mengenal ritual penguburan. Penguburan manusia tersebut menghadap ke barat atau posisi matahari terbenam, terdapat susunan bongkahan batu gamping, penaburan remis cangkang kerang, dan remukan batu gamping merah.
                 
             Temuan manusia prasejarah itu juga membuka pengetahuan baru tentang kecerdasan manusia prasejarah. Manusia Goa Kidang membuat alat berburu dan meramu dengan teknologi yang lebih maju dibanding temuan jenis Homo sapiens lain.
               
 "              Mereka membuat peralatan dari bahan cangkang kerang dan tulang binatang yang dibentuk dan diasah dengan alat batu. Mereka juga membuat mata anak panah yang terbuat dari tulang," jelas Indah.
               
               Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Informasi, dan Komunikasi Kabupaten Blora, Suntoyo, mengemukakan, temuan itu semakin memperkaya khasanah arkeologi di Blora. Sebelumnya, di Blora banyak ditemukan fosil binatang purba dan manusia prasejarah Homo soloensis, di Ngandong, Kecamatan Kradenan.
             
              " Tentu saja kami akan melindungi dan melestarikan situs itu bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Kami juga menjadikan kawasan itu sebagai kawasan lindung," kata Suntoyo



Benda Purbakala Watu Joli yang Hilang Telah Ditemukan

Watu joli, benda dari batu bernilai arkeologis (arkaik) yang semula berasal dari situs purbakala Goa Tritis di atas Gunung Budhek, Dusun Kendit, Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, telah ditemukan. Watu joli yang dicuri sejak enam tahun lalu itu ditemukan polisi di rumah seorang pengasuh pondok pesantren.

Batu yang diyakini berasal dari zaman Kerajaan Kediri ini saat ditemukan dalam keadaan terkemas dalam kotak beton dan diduga hendak dijual ke pasar gelap benda purbakala.

Watu joli, berbentuk seperti candi kecil, merupakan bagian dari sejarah Hindu Kuno, berukuran tinggi sekitar 61 sentimeter, lebar atas 26 cm, lebar tengah 29 cm dan lebar bawah 32 cm. Benda ini berongga dengan bagian atas berbentuk stupa yang bisa dilepas dan berfungsi sebagai tutup.

Saat dihubungi, Kepala Museum Tulungagung Hariadi, yang menyertai polisi menyita watu joli, Rabu (2/5/2012), menjelaskan, dulu watu joli diyakini digunakan untuk menyimpan abu jenazah. Benda ini dilaporkan oleh Sutrimo (55), penjaga Situs Goa Tritis, hilang dicuri pada 27 Februari 2006.

"Suatu hari benda itu hilang dari tempatnya semula dan saya yakin itu dicuri orang karena harganya mahal. Maka, saat itu saya langsung lapor ke Polsek Campurdarat," katanya.

Setelah enam tahun menghilang, Selasa (1/5/2012) sekitar pukul 12.00, jajaran Unit Reskrim Polsek Campurdarat berhasil menemukan watu joli tersebut di rumah Gus Maksum, seorang pengasuh pesantren di Dusun Watugedhek, Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat.

Menurut Kapolsek Campurdarat, Ajun Komisaris Suyono, penemuan tersebut berkat laporan dari warga sekitar. Polisi yang menindaklanjuti laporan tersebut melakukan penggrebekan di rumah Gus Maksum. Benda tersebut akhirnya ditemukan di belakang rumah, di dalam sebuah kotak beton yang dilengkapi dengan pintu yang digembok.

Di atas beton tersebut diletakkan sebuah bonsai sehingga tidak ada kesan jika di dalam kotak beton tersebut ada benda purbakala. Saat ditemukan, di dalam kotak beton tersebut juga ditemukan sebuah batu berbentuk seperti Candi Penataran, dengan ukuran yang lebih kecil.

Kedua benda tersebut dibawa ke Polsek Campurdarat beserta Gus Maksum untuk disidik. Namun, sejauh ini polisi belum menetapkan tersangka. "Kami masih melakukan pemeriksaan dan pengembangan kasus ini. Belum ada tersangka karena masih ada beberapa pihak yang harus dimintai keterangan," terang Suyono.


Selasa, 14 Agustus 2012

Ratusan Fosil Manusia Purba Dikoleksi UGM



Pusat Laboratorium Bio Antropologi dan Paleo Antropologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) kini mengoleksi ratusan fosil manusia purba.

Menurut Ketua Kepala Pusat Laboratorium Bio Antropologi dan Paleo Antropologi, Fakultas Kedokteran UGM, Rusyad Suryanto, koleksi itu hasil penelitian yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.

"Termasuk penelitian yang dilakukan di wilayah Jawa Timur di Kabupaten Tulungagung ini," katanya di Tulungagung, Jumat (4/5/2012).

Ia menjelaskan, selama ini tim peneliti UGM telah melakukan penelitian fosil manusia purba di berbagai wilayah, yaitu Bali, Papua dan Jawa Barat serta Jawa Tengah.

Langkah itu sebagai bentuk penyelamatan sejarah atas peristiwa yang terjadi tentang kehidupan manusia purba.

"Demikian juga observasi yang kami lakukan di Tulungagung ini," ucapnya, menambahkan.

Sejak Kamis (3/5/2012), sejumlah ahli arkeologi UGM dan Universitas Airlangga, menggelar observasi fosil dan subfosil kehidupan manusia purba di sekitar Goa Song Genthong, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung.

Kegiatan yang rencananya akan berlangsung hingga selama empat hari itu dikonsentrasikan di dua mulut Goa Song Genthong. Pada penelitian hari pertama, ditemukan beberapa benda yang diduga bagian dari subfosil kehidupan manusia purba.

Rasyad menjelaskan, meski telah ditemukan beberapa benda, namun pihaknya belum memastikan bahwa-benda itu merupakan artefak purbakala yang sedang mereka cari.

Tetapi ia memastikan bahwa di area yang tengah mereka gali memang terdapat jejak sisa manusia purba dengan mengacu temuan sejumlah subfosil pada tahun lalu.

Sumber :
ANT




Senin, 13 Agustus 2012

Spesies Buaya Terbesar Punya Panjang 8,3 Meter



Spesies buaya raksasa yang sanggup menelan manusia bulat-bulat pernah hidup di wilayah timur Afrika. Inilah hasil riset peneliti dari University of Iowa.
Ukurannya lebih dari 27 kaki atau sekira 8,3 meter. Sebagai perbandingan, buaya Nil terbesar berukuran kurang dari 21 kaki (6,4 meter).
"Ini adalah buaya terbesar sepanjang masa," kata Christopher Brochu, sang peneliti, seperti dikutipSciencedaily, Jumat (4/5/2012).
Spesies buaya tersebut diberi nama Crocodylus thorbjarnarsoni. Jenis ini hidup dalam kurun waktu 2-4 juta tahun yang lalu.
Buaya raksasa ini ditemukan dengan analisis fosil yang disimpan di National Museum of Kenya di Nairobi.
"Buaya ini hidup berdampingan dengan leluhur kita, dan mungkin memakan mereka," lanjut Brochu.
Memang tak ada bukti bahwa buaya ini pernah makan manusia. Namun, ukuran buaya yang besar cukup menguatkan. Buaya bisa makan apa saja dan manusia adalah salah satunya.
"Kami tak punya bukti sisa fosil manusia dengan gigitan buaya, tapi ukuran buaya ini lebih besar dari buaya saat ini, dan kita lebih kecil. Jadi, buaya mungkin tak perlu menggigit," papar Brochu.
Perilaku manusia saat itu juga memberi kemungkinan serangan. Manusia saat itu mencari air di sungai atau danau tempat buaya bersemayam.
Brochu mengungkapkan bahwa Crocodylus thorbjarnarsoni tak memiliki kekerabatan secara langsung dengan buaya Nil yang eksis saat ini.
Menurut Brochu, hal itu menunjukkan bahwa buaya Nil adalah spesies yang relatif "muda", bukan merupakan "fosil hidup" seperti yang diduga.
"Kami benar-benar tak tahu dari mana buaya Nil berasal. Namun, dia baru muncul ketika buaya-buaya purba sudah punah," kata Brochu.
Hasil riset Brochu dipublikasikan di Journal of Vertebrate Paleontology yang terbit pada 3 Mei 2012 lalu.
Sumber :
SCIENCEDAILY,kompas.com






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...