Senin, 27 Agustus 2012

Turki Tempat Kelahiran Ratusan Bahasa



Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (23/8/2012) mengungkap bahwa Turki ternyata merupakan tempat kelahiran ratusan bahasa yang tergabung dalam rumpun bahasa Indo-Eropa.

Quentin Atkinson, pakar psikologi evolusi dari University of Auckland, dan rekannya melakukan studi dengan cara menganalisis kosakata dan geografis dari 103 bahasa dalam rumpun Indo-Eropa dengan pemodelan komputer.

Pendekatan yang dipakai dalam riset mirip dengan studi pandemi yang disebabkan virus. Sampel virus dari beragam tempat dikoleksi, DNA dianalisis dan dipetakan hingga bisa diketahui mutasi genetik yang ada.

"Begitu mendapatkan silsilah keluarga, mereka bisa melacak ke belakang cabang pohon silsilah itu sampai ke asal-muasalnya. Apa yang kami lakukan adalah pendekatan yang sama yang diaplikasikan pada bahasa," kata Atkonson seperti dikutip AP kemarin.

Atkinson mulai menganalisis cognates, kata yang secara jelas memiliki asal-usul yang sama. Salah satu kata yang dianalisis ialah "mother" atau "ibu" dalam bahasa Indonesia. Kata yang mirip ialah "mutter" (Jerman), "mat" (Rusia), dan "madar" (Persia).

Analisis komputer memampukan ilmuwan mengetahui bagaimana moyang bahasa menyebar serta berevolusi menjadi bahasa yang berbeda dan memisah. Dapat diketahui pula wilayah tempat bahasa berasal dan memisah serta waktu pemisahan.

Hasil analisis seperti diberitakan New York Times menunjukkan bahwa bahasa Indo-Eropa berasal dari bahasa proto-Indo-Eropa yang lahir di Anatolia, wilayah yang kini berada di selatan Turki.

Selama ini, ada dua teori yang menjelaskan perkembangan bahasa Indo-Eropa. Teori pertama mengungkapkan, bahasa itu dibawa oleh kaum nomaden berdua pada zaman perunggu yang melewati Ukraina sekitar 5.000-6.000 tahun lalu. Teori kedua menyatakan, bahasa itu lahir dari kebudayaan pertanian di Turki 8.000-9.500 tahun lalu.

Penemuan baru ini mendukung ilmuwan yang berpandangan bahwa bahasa Indo-Eropa berakar di Turki. Beberapa kalangan juga menganggap bahwa penemuan ini mengakhiri perdebatan pendukung dua teori yang ada.

Namun, tak semuanya puas.

Victor Mair, pakar bahasa China dari University of Pennsylvania, mengatakan, "Ada banyak hasil penelitian di makalah ini yang tidak berdasar."

Menurut Mair, analisis Atkinson hanya didasarkan pada lompatan logika bagaimana bahasa berubah dan berdifusi. Sementara pandangan lain yang mengatakan bahwa bahasa Indo-Eropa menyebar lewat kaum nomaden memiliki bukti arkeologis.





















































































































































































































































































































Sumber :
AP / New York Times, kompas.com






Minggu, 26 Agustus 2012

Peninggalan Purbakala Dalam Laut Dicuri


Sebagian benda kuno muatan kapal Inggris yang diperkirakan dari masa akhir tahun 1800-an yang berada pada kedalaman 17 meter di perairan Natuna, Kepulauan Riau, dicuri. Kini, sebagian barang curian, di antaranya berupa benda-benda dari keramik, itu disita di Kepolisian Resor Natuna.
Menurut Koordinator Kelompok Kerja Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar—yang membawahkan Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau—Teguh Hidayat, Kamis (30/8), barang-barang curian itu hendak diselundupkan lewat jasa kargo. ”Digagalkan saat Lebaran lalu,” kata dia.
Penggagalan itu dilakukan setelah peneliti Arkeologi Maritim dan Kepala Subseksi Pelayanan Teknis Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan Nia Naelul Hasanah berkoordinasi dengan polisi. Dugaan sementara, barang-barang bersejarah itu dicuri dengan jasa para penyelam asal Vietnam.
Menurut Teguh, terhadap barang-barang muatan lain yang masih ada di dasar samudra perlu segera diekskavasi atau setidaknya diamankan. ”Kalau tidak segera dilakukan, barang-barang yang masih tersisa bisa dicuri lagi dan kemungkinan habis,” kata Teguh.
Secara khusus, Nia yang pernah menyelam di lokasi Natuna mengusulkan agar ada ekskavasi pada tahun 2013 mendatang. Namun, sebelum itu terwujud, sudah terjadi pencurian.
Teguh mengatakan, saat ini tim BP3 Batusangkar menunggu kajian tim pemerintah pusat dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman yang berada di lokasi. Nantinya, berdasarkan laporan tim tersebut, akan dilakukan pemilahan barang-barang temuan itu.
Sumber :
Kompas Cetak


Sabtu, 25 Agustus 2012

Kota Tua di Mesir Menyimpan Potongan-potongan Tangan


Axel KrauseSalah satu potongan tangan kanan yang ditemukan di Istana Hiksos di Avaris (kini Tell el-Daba) di Mesir.
KAIRO, KOMPAS.com - Kota tua Avaris di Mesir menyimpan potongan-potongan tangan manusia. Para ilmuwan menemukannya lewat penggalian baru-baru ini di mana ada 16 potongan tangan yang ditemukan terkubur di empat sumur penggalian berbeda.

Dua sumur yang digali itu diduga terletak di ruang tahta raja istana kuno di Mesir. Masing-masing sumur itu menyimpan 1 tangan. Adapun dua sumur lain yang terletak di luar ruangan raja menyimpan 14 potongan tangan lainnya. Semua potongan tangan merupakan tangan kanan. Tak ada satu pun yang tangan kiri.

"Kebanyakan dari tangan-tangan itu adalah berukuran besar dan sangat besar," kata Manfred Bietak, pimpinan proyek ekskavasi, seperti dikutip Live Science, Jumat (10/8/2012).

Tangan-tangan tersebut tepatnya ditemukan di wilayah delta Sungai Nil, sebelah timur laut Kairo. Tangan-tangan itu adalah milik dari orang yang hidup 3.600 tahun lalu ketika kaum Hiksos, orang-orang dari utara Kanaan, menguasai Mesir dan mendirikan pusat pemerintahan di Avaris, lokasi yang kini menjadi bagian dari kota Tell el-Daba. Saat tangan-tangan itu dipendam, kerajaan setempat sedang diperintah oleh Raja Khayan.

Dalam publikasinya di jurnal Egyptian Archaeology, Bietak mengungkapkan bahwa penemuan ini menjadi bukti adanya ritual pemotongan tangan yang selama ini dideskripsikan dalam seni maupun naskah-naskah Mesir Kuno. "Bukti kami adalah bukti paling tua dan satu-satunya bukti fisik yang ada," ujar Bietak.

Menurut Bietak, praktik pemotongan tangan biasa dilakukan oleh prajurit. Setiap prajurit akan mendapatkan emas jika berhasil memotong tangan kanan musuh. Pemotongan tangan kanan sama dengan mengurangi kekuatan musuh.

Bietak mengatakan belum dapat mengetahui pemilik tangan-tangan itu. Pemiliknya bisa saja orang Mesir maupun orang Hiksos. Menurutnya, praktik pemotongan tangan memang sudah menjadi tradisi Mesir dan Hiksos. Namun, belum diketahui dari mana asal usul praktik itu. Tradisi itu dimulai oleh salah satu bangsa tersebut ataupun "diimpor" dari tempat lain.

Pemotongan tangan bukan satu-satunya praktik kejam di Mesir kuno. Narmer Palate, objek berasal dari 5.000 tahun lalu, menunjukkan bahwa Firaun Mesir melakukan pemenggalan kepala atau menghancurkan kepala manusia yang sedang berlutut padanya.
Sumber :
LIVESCIENCE, kompas.com

i

Rabu, 22 Agustus 2012

Moyang Manusia Ternyata Beragam


Temuan fosil tengkorak baru mengonfirmasi adanya spesies Homo rudolfensis sekaligus menunjukkan bahwa nenek moyang manusia ternyata beragam.

Fosil ditemukan di gurun Koobi Fora, wilayah utara Kenya. Fosil kunci yang menunjukkan eksistensi H rudolfensis ialah fosil rahang bawah fosil wajah anakan manusia purba itu.

"Fosil ini memiliki wajah yang datar, Anda bisa membuat garis lurus dari bagian matanya ke gigi seri fosil itu," kata Fred Spoor dari Max Planck Institute of Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, yang terlibat riset, seperti dikutip Livescience, Rabu (8/8/2012) lalu.

"Fosil ini punya ciri yang berbeda, benar-benar menunjukkan sesuatu yang baru. Saya yakin kita tidak hanya melihat variasi dalam satu spesies," tambah Meave Leakey, palaentolog Turkana Basin Institute di Nairobi.

H rudolfensis pertama kali dideskripsikan berdasarkan fosil tengkorak yang ditemukan pada tahun 1972 di Kenya, disebut KNM-ER 1470.

Saat itu, telah dikenal spesies H habilis dan H sapiens yang juga nenek moyang manusia. H rudolfensisdianggap berbeda karena memiliki ukuran lebih besar dari H habilis.Sayang, bagian yang ditemukan bukan wajah dan rahang. Dengan demikian, palaentolog masih sulit menyatakan bahwa fosil itu memang H rudolfensis.Temuan fosil kali ini membuat ilmuwan lebih yakin bahwa H rudolfensis memang eksis, hidup bersama H habilis dan H sapiens.Meski demikian, keyakinan tak 100 persen. Fosil rahang bawah dengan kode KNM-ER 1802 memiliki bagian atas mulut yang lebih melingkar, ciri yang tak dimiliki H rudolfensis.Ilmuwan memprediksi, fosil ini merupakan milik spesies H habilis. Namun, hingga fosil H habilisditemukan, ilmuwan juga belum bisa meyakini. Bisa jadi, fosil itu juga merupakan milik spesies lain.

Seperti diberitakan Nature, Rabu minggu lalu, penemuan ini menunjukkan bahwa nenek moyang manusia beragam, hidup berdampingan pada 1,7 hingga 2 juta tahun lalu.

Selama ini, dipahami bahwa evolusi manusia berlangsung layaknya satu garis lurus, satu spesies moyang punah digantikan satu spesies baru lainnya. Lewat riset ini terungkap bahwa mungkin saja lebih dari satu spesies moyang hidup pada masa yang sama dan saling berkompetisi. Yang menang, dialah yang eksis dan mampu bertahan.


Sumber :
Nature, Livescience, kompas.com


Selasa, 21 Agustus 2012

Kuil Kuno Maya Ditemukan di Guatemala




Arkeolog menemukan kuil kuno Maya yang berusia 1.600 tahun yang diduga merupakan tempat pemujaan kepada Matahari. Kuil itu ditemukan di situs arkeologi El Zotz, 550 km utara Guatemala City.

"Matahari merupakan unsur penting dalam kebudayaan maya. Matahari adalah sesuatu yang terbit setiap hari, menyinari setiap sudut dan celah, seperti halnya kekuasaan raja," kata Stephen Houston, profesor Brwon University yang terlibat penelitian.

"Bangunan ini adalah salah satu yang merayakan hubungan erat antara raja dan kekuatan yang paling kuat dan dominan di semesta," imbuh Houston yang bersama rekannya telah mempelajari situs El Zotz sejak tahun 2006 lalu.

Arkeolog mengatakan, kuil yang ditemukan sengaja dibangun untuk menghormati seorang tokoh pemimpin yang dikubur di bawah Diablo Pyramid, gubernur dan pendiri dinasti El Zotz pertama, bernama Pa'Chan atau langit yang diperkaya.

Penanggalan karbon yang dilakukan mengungkap, kuil Maya yang ditemukan berasal dari masa 350 - 400 Masehi. Peradaban maya menyebar ke Meksiko, Guatemala, Honduras, El Salvador, dan Belize. Diperkirakan, puncak peradaban maya adalah antara tahun 250 - 900 Masehi.

Kuil yang ditemukan dihiasi dekorasi berbentuk topeng dari bahan semen, setinggi 1,5 meter, yang masing-masing menggambarkan fase Matahari bergerak dari timur ke barat. Dekorasi lain adalah plesteran dari semen yang oleh tim peneliti dikatakan sangat mengagumkan.

Thomas Garrison, arkeolog University of Southern California yang juga terlibat penemuan dalam konferensi pers pada Rabu (18/7/2012) di Guatemala City mengatakan bahwa lebih dari setengah bagian kuil masih harus diekskavasi.

"Kuil mungkin memiliki 14 topeng pada dekorasi dinding bagian atas, tapi hanya 8 dianataranya yang sudah didokumentasikan sejauh ini," kata Edwin Roman, arkeolog dari University of Austin seperti dikutip AFP, Rabu kemarin.
Sumber :AFP, kompas.com



Senin, 20 Agustus 2012

Moyang Manusia Sudah Mengenal Obat-obatan


Moyang manusia yang sering disebut manusia goa, yakni Neanderthals (Homo neanderthalensis), terbukti telah mengonsumsi daun-daunan dengan memanggangnya dan mungkin memanfaatkannya sebagai obat-obatan.

Hal tersebut terungkap dari hasil penelitian Karen Hardy, antropolog dari Autonomous University of Barcelona di Spanyol yang dipublikasikan di jurnal Naturwissenschaften (The Science of Nature).

Hardy meneliti lima fosil Neanderthals yang ditemukan di Goa El Sidron di wilayah utara Spanyol. Ia melakukan observasi pada plak gigi fosil yang sudah berusia 50.000 tahun itu untuk mengungkap diet makanan Neanderthals.

Pada plak gigi ditemukan jejak nutrisi yang dimakan Neanderthals, di antaranya berupa kacang, rerumputan, sayur-sayuran, jejak kimia asap kayu serta amilum sebagai bukti bahwa moyang manusia itu sudah mengonsumsi karbohidrat.

Analisis pada salah satu spesimen mengungkap adanya jejak yarrow dan chamomile. Herba itu tak memiliki nilai nutrisi dan memiliki rasa pahit. Ilmuwan berpendapat bahwa dua herba itu dikonsumsi bukan sebagai makanan, melainkan obat-obatan.

Michael Chazan dari University of Toronto seperti mengatakan bahwa makanan yang terasa pahit bisa saja masuk sebagai produk samping memasak. Sementara itu, Richard Wrangham dari Harvard University mengatakan, bisa saja yarrow dan chamomile dipakai sebagai bumbu.

Namun, Hardy tidak setuju dengan hal tersebut. Belum ada bukti bahwa Neanderthals mempunyai panci untuk memasak. Selain itu, analisis secara genetik juga mengungkap bahwa Neanderthals bisa merasakan pahit.

Hardy yakin bahwa Neanderthals menggunakan dedaunan yang terasa pahit sebagai bahan obat, seperti halnya para herbalis modern yang memakainya sebagai obat antiseptik dan antibengkak.

"Semua primata tingkat tinggi menggunakan tanaman obat, jadi mungkin Neanderthals melakukannya juga," kata Hardy seperti dikutip Nature, Rabu (18/7/2012).


Sumber :
Nature, kompas.com


Minggu, 19 Agustus 2012

Lapisan Kehidupan di Liang Bua

Liang Bua, goa besar di Kecamatan Ruteng, Manggarai, Flores, ibarat buku yang mengisahkan tentang pelapisan kebudayaan di masa lalu yang dihancurkan oleh letusan gunung api. Lantai goa ini terdiri dari lapisan tufa atau endapan material vulkanik lembut yang terkonsolidasi. Tufa tersebut berasal dari hasil letusan gunung api, entah dari mana asalnya. Hingga kini, belum ada penelitian yang fokus mengungkap asal tufa tersebut.

Thomas Sutikna dari Puslit Arkenas yakin bahwa Liang Bua bekali-kali tertimbun letusan gunung api. Lapisan paling tebal kebetulan menjadi pembatas antara temuan dunia modern dan dunia purba. Dunia modern di Liang Bua dibatasi usia hingga 10.000 tahun lalu. Sementara dunia purba yang mengindikasikan kehadiran manusia berusia paling tua hingga 95.000 tahun lalu.

Dengan adanya lapisan tufa tebal ini, Thomas menduga manusia purba tak mungkin bertemu dalam satu masa dengan manusia modern. Tebal lapisan tufa 1-2 meter. Di atas tufa itu masih ada lapisan atas yang tebalnya hingga ke permukaan tanah 4-6 meter.

Di lapisan atas, usianya paling tua dibatasi hingga 10.000 tahun. Di lapisan atas ini, ketika digali pertama kali, ditemukan pecahan tembikar dan kapak corong yang terbuat dari perunggu. Lapisan teratas ini diduga berumur 450 tahun yang sudah masuk masa sejarah, tetapi budayanya masih dianggap prasejarah.

Di bawah tembikar yang berusia sekitar 4.000 tahun ditemukan kerangka manusia lengkap dengan bekal kuburnya berupa beliung, periuk, kendi, dan taring babi. Di lapisan ini, tahun 1965, ditemukan enam kerangka manusia oleh Verhoeven. Setelah itu, tahun 1978 juga ditemukan enam kerangka oleh tim Arkenas. Menurut Jatmiko dari Arkenas, dalam penggalian tahun 1998 kembali ditemukan dua kerangka manusia dengan alat kuburnya.

Di bawah kerangka, masih di lapisan atas dalam rentang maksimal 10.000 tahun, kemudian ditemukan banyak tulang babi, rusa, kerbau atau sapi, dan monyet. ”Mereka termasuk fauna modern,” kata Thomas.

Dalam stratigrafi situs Liang Bua yang dibuat tim Arkenas, jelas terlihat bahwa tufa tersebut seperti menutup sebuah zaman yang dihuni oleh manusia purba. Tepat di bawah tufa tebal tersebut, tepatnya enam meter dari permukaan tanah, pada tahun 2003, tim peneliti berhasil menemukan rangka Homo floresiensis.

Homo floresiensis ini diperkirakan tinggal dalam rentang usia 18.000 tahun hingga maksimal 95.000 tahun silam. Di bawah kerangka Homo floresiensis ini kemudian ditemukan banyak tulang gajah purba kerdil yang terkonsentrasi bersama artefak batu. ”Diduga, alat batu tersebut digunakan manusia purba untuk menguliti stegodon,” kata Jatmiko. ”Stegodon yang ditemukan didominasi yang masih kecil atau remaja.”

Dari segi peralatan, kata Jatmiko, manusia purba telah memanfaatkan sumber daya lokal berupa batu untuk berburu dan meramu makanan. Mereka memilih bahan batu itu bukan sembarangan. Mereka sangat cerdik dan hanya memilih batuan yang berkualitas tinggi. ”Contohnya mereka hanya pilih batuan chert dan kalsedon, bukan batuan andesit yang gampang rapuh,” katanya.

Chert jika dipangkas akan memiliki sisi tajam yang seperti silet. Ini fungsinya untuk menguliti binatang seperti stegodon. ”Batuan tajam ini bisa berfungsi sebagai pisau untuk meraut kayu dan bambu,” tutur Jatmiko.

Di lapisan yang usianya diperkirakan 18.000 hingga 38.000 tahun, ditemukan fosil komodo dan kura-kura raksasa.

Sumber: kompas.com


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...